Ia mengatakan, selama ini industri perfilman nasional lebih banyak didominasi tema drama, horor, maupun konflik rumah tangga. Karena itu, Lumbung Dongeng Nuswantara ingin menghadirkan alternatif tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat dengan pesan moral dan nilai pendidikan.
“Kami ingin membawa Lumbung Dongeng Nuswantara masuk ke dunia pendidikan melalui film. Isinya tentang nilai-nilai luhur, norma, dan kearifan lokal yang dikemas secara menghibur sehingga bisa menjadi media belajar yang menyenangkan,” kata Nugie.
Menurutnya, Banten dipilih sebagai titik awal gerakan tersebut karena memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, namun belum banyak diangkat ke layar lebar maupun film pendek. Selain kisah masyarakat Baduy, masih banyak tradisi, situs sejarah, hingga filosofi kehidupan masyarakat Banten yang layak diperkenalkan kepada publik.
Nugie meyakini bahwa film dongeng dapat menjadi instrumen atau soft power yang efektif dalam membangun karakter generasi muda sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa.
“Bagi kami, film dongeng adalah soft power yang efektif untuk membangun karakter, memperkuat jati diri, sekaligus mengenalkan kekayaan budaya kepada masyarakat. Kami berharap gerakan ini dapat melahirkan generasi yang lebih mengenal leluhurnya dan bangga terhadap budayanya,” ungkapnya.
Gerakan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal sejak usia dini, sehingga generasi muda tidak hanya mengenal budaya asing, tetapi juga memahami akar sejarah dan identitas daerahnya sendiri.
Audiensi tersebut turut dihadiri Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten Budi Yudi Wibowo serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Eli Susiyanti. Kehadiran para pemangku kepentingan itu menjadi sinyal kuat bahwa sinergi antara pemerintah, legislatif, dan komunitas kreatif diperlukan untuk melestarikan warisan budaya melalui media yang lebih dekat dengan generasi digital.
Melalui kolaborasi tersebut, diharapkan lahir berbagai karya kreatif berbasis budaya lokal yang tidak hanya memperkuat pendidikan karakter anak, tetapi juga menjadi sarana promosi pariwisata dan identitas budaya Banten di tingkat nasional maupun internasional.