Jumat, 2 Oktober 2026

Freestyle Viral Bukan Ukuran Kehebatan Anak Zaman Sekarang

BAGIKAN:
Freestyle Viral Bukan Ukuran Kehebatan Anak Zaman Sekarang
0
Freestyle Viral Bukan Ukuran Kehebatan Anak Zaman Sekarang

Di tengah perkembangan media sosial yang semakin cepat, banyak anak-anak dan remaja mulai terpengaruh oleh berbagai tren yang muncul setiap hari. Salah satu fenomena yang semakin sering terlihat adalah kebiasaan melakukan freestyle atau aksi tertentu hanya untuk menarik perhatian dan dianggap keren oleh teman-temannya. Perilaku ini tidak hanya muncul di lingkungan bermain, tetapi juga merambah ke tempat yang seharusnya dijaga kesuciannya, termasuk saat menjalankan ibadah shalat. Hal ini menjadi persoalan serius karena menunjukkan adanya pergeseran nilai dalam cara anak memandang penghormatan, adab, dan makna sebenarnya dari sebuah kehebatan.

Banyak anak merasa bahwa melakukan aksi unik, lucu, atau berlebihan di depan teman-temannya akan membuat mereka terlihat hebat. Mereka ingin mendapatkan tepuk tangan, pujian, bahkan perhatian di media sosial jika aksinya direkam lalu dibagikan. Tidak sedikit yang melakukan gerakan tidak pantas saat berada di masjid, bercanda berlebihan ketika shalat berjamaah, atau sengaja membuat tindakan yang mengundang tawa agar dianggap lucu dan menarik. Perilaku seperti ini bukan hanya mengganggu orang lain, tetapi juga merusak nilai kesakralan ibadah itu sendiri.

Shalat adalah bentuk komunikasi seorang hamba dengan Tuhannya. Di dalamnya terdapat ketenangan, kekhusyukan, dan penghormatan yang sangat tinggi. Ketika shalat dijadikan tempat untuk mencari perhatian atau bahkan bahan hiburan, maka nilai ibadah itu menjadi rusak. Anak-anak yang belum memahami secara utuh tentu membutuhkan bimbingan agar mengerti bahwa tempat ibadah bukan panggung pertunjukan. Masjid bukan arena untuk menunjukkan siapa yang paling lucu atau paling berani melakukan aksi aneh.

Fenomena freestyle viral ini sering kali muncul karena kurangnya pemahaman tentang batas antara hiburan dan adab. Banyak anak tumbuh dalam lingkungan digital yang menjadikan popularitas sebagai ukuran keberhasilan. Mereka melihat orang-orang yang terkenal karena aksi unik, lalu menganggap bahwa cara terbaik untuk diakui adalah dengan melakukan hal serupa. Akibatnya, nilai sopan santun, rasa malu, dan penghormatan terhadap tempat suci perlahan mulai memudar.

Kehebatan sejati tidak lahir dari tingkah yang membuat orang tertawa sesaat. Kehebatan lahir dari akhlak, kedisiplinan, dan kemampuan menjaga diri. Anak yang mampu bersikap sopan di rumah ibadah jauh lebih mulia daripada anak yang sibuk mencari perhatian. Anak yang menjaga lisannya, menghormati guru, dan menghargai orang tua memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang hanya mengejar pengakuan kosong dari lingkungan sekitarnya.

Lingkungan pertemanan juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk perilaku ini. Ketika satu anak melakukan tindakan tidak pantas lalu dianggap lucu oleh teman-temannya, maka yang lain akan terdorong untuk meniru. Budaya saling menertawakan kesalahan akhirnya menjadi hal biasa. Inilah yang membuat perilaku negatif cepat menyebar. Jika tidak dihentikan sejak dini, anak-anak akan tumbuh dengan pemahaman bahwa penghargaan lebih penting daripada nilai moral.

Peran orang tua dan guru menjadi sangat penting dalam menghadapi kondisi ini. Pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat, tetapi harus dibangun melalui keteladanan dan pengawasan yang konsisten. Anak perlu dibimbing agar memahami bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu, dan rasa hormat lebih penting daripada popularitas. Orang tua harus memperhatikan apa yang ditonton anak setiap hari, karena tontonan sering kali menjadi sumber utama peniruan perilaku.

Guru juga memiliki tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai moral di sekolah. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai akademik, tetapi juga tempat membentuk akhlak dan kepribadian. Ketika guru aktif mengingatkan tentang pentingnya menjaga sikap, menghormati ibadah, dan memahami batas pergaulan, maka anak akan memiliki pegangan yang lebih kuat dalam menghadapi pengaruh negatif dari luar.

Kelompok 4 Sistem Informasi UNPAM Hadirkan Website Antrean Digital di SMAN 1 Warunggunung, Solusi Cerdas Distribusi Makan Bergizi Gratis
Artikel Selanjutnya

Kelompok 4 Sistem Informasi UNPAM Hadirkan Website Antrean Digital di SMAN 1 Warunggunung, Solusi Cerdas Distribusi Makan Bergizi Gratis

Kontributor: Insan Faisal Ibrahim
Diterbitkan: 5 Mei 2026, 12:08 WIB · Diperbarui: 5 Mei 2026, 17:48 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

SDN Tapos 1 Cadasari Berbenah, Revitalisasi Telan Anggaran Rp888 Juta

Konten Redaksi Kamis, 1 Oktober 2026 | 01:18 WIB

Tinjau Sekolah Rakyat di Lebak, Andra Soni Dorong Siswa Kejar Cita-cita

Konten Redaksi Rabu, 30 September 2026 | 21:10 WIB

Florencia Kirana Wilman: Bukti bahwa Siswi SMK Juga Bisa Berprestasi

Konten dari Pengguna Cerita Rabu, 30 September 2026 | 04:17 WIB

Cegah Tawuran dan Narkoba, Polsek Pamarayan Beri Edukasi kepada 650 Pelajar

Konten Redaksi Selasa, 29 September 2026 | 11:30 WIB

Quizizz Mission: Inovasi Ulangan Harian Berbasis Stimulus untuk Mendukung Pembelajaran Berkualitas di Kelas X MPLB

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Sabtu, 26 September 2026 | 02:13 WIB

Cegah Bullying Sejak Dini, Polsek Carenang Edukasi Siswa SDN Binuang

Konten Redaksi Kamis, 24 September 2026 | 18:23 WIB

Dari Biang Sabun Jadi Cuan, Siswa Belajar Produksi hingga Pemasaran Sabun Cuci Piring

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Kamis, 24 September 2026 | 15:38 WIB

Edukasi Wudhu di Tengah Kemarau Ajarkan Siswa Bijak Menggunakan Air

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Kamis, 24 September 2026 | 07:38 WIB

Bangun Jiwa Technopreneur, Mahasiswa PK Terapkan Pembelajaran Berbasis Proyek di SMK Sawunggalih

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Kamis, 24 September 2026 | 01:29 WIB