“Kalau terbentuk itu Agustus 2024, lalu Oktober pertama kali pentas di KUSTOMFEST,” jelas Gandoz. Gandoz menyebut banyak anggota YKHC datang dari latar belakang kehidupan yang tidak mudah.
Mereka memiliki semangat untuk memperbaiki diri. Karena itu, ajakan untuk bersalawat justru disambut antusias oleh para anggota.
“Teman-teman ini punya masa lalu ‘remuk’ dan punya kesadaran untuk memperbaiki diri. Saat kami ajak salawat, responsnya luar biasa,” beber Gandoz. YKHC mengusung konsep unik dengan memadukan rebana sebagai dasar musik hadrah.
Mereka menambahkan instrumen modern seperti saksofon, trombone, simbal, drum elektrik, hingga sentuhan hip hop dari Balance Perdana. Personel YKHC, Dony Saputra, menyebut kolaborasi mereka dengan HS menjadi langkah penting.
Kerja sama ini bertujuan memperluas dakwah melalui musik.
“Ini titik ke-8 dari kerja sama HS dengan YKHC setelah sebelumnya tampil di Semarang, Magelang, Cimahi, Purwokerto, Surabaya, Malang dan beberapa kota lain,” kata Dony.
Dony juga membocorkan bahwa YKHC tengah menyiapkan single berjudul “Rampak Pembebasan” yang mengangkat isu Palestina. Selain itu, mereka juga menggarap album baru yang menggali kembali kearifan lokal.
“Insya Allah setelah Lebaran kita rilis, konsepnya lebih ke nguri-nguri budaya lokal yang mulai ditinggalkan,” pungkas Dony Saputra.
***