Jumat, 2 Oktober 2026

Eropa Terpecah Sikap Hadapi Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran

BAGIKAN:
Eropa Terpecah Sikap Hadapi Serangan Amerika Serikat dan Isr...
0
Eropa Terpecah Sikap Hadapi Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran
Negara-negara Eropa menunjukkan perpecahan sikap dalam menghadapi serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, dengan sebagian memilih diplomasi. (Dok. Ist)

Prancis juga menekankan pentingnya menjaga hukum internasional dalam merespons konflik tersebut. Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan, tindakan militer yang dilakukan di luar kerangka hukum internasional dapat merusak stabilitas dunia.

Macron juga mendorong pembahasan darurat mengenai situasi tersebut di Dewan Keamanan PBB. Paris berupaya menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Washington dan sikap kritis terhadap eskalasi konflik.

Prancis mengutuk serangan balasan yang dilakukan Iran tetapi juga menegaskan perlunya pengendalian diri. Pemerintah Prancis bahkan mengizinkan pesawat militer Amerika Serikat berada sementara di sejumlah pangkalan mereka.

Namun Paris memberikan syarat bahwa pesawat tersebut tidak digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Kehadiran pesawat itu disebut hanya untuk mendukung operasi pertahanan kawasan.

Prancis juga mengirimkan kapal induk Charles de Gaulle beserta sejumlah aset militer lainnya ke wilayah tersebut. Langkah ini dilakukan untuk melindungi kepentingan strategis Prancis, termasuk pangkalan militer mereka di Abu Dhabi.

Sementara itu, Perdana Menteri Belanda Rob Jetten mengakui bahwa Iran menimbulkan ancaman bagi keamanan kawasan. Namun ia menilai serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel tidak sejalan dengan prinsip hukum internasional.

Berbeda dengan sejumlah negara Eropa Barat, Jerman justru terlihat lebih sejalan dengan sikap Washington. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut Iran sebagai ancaman besar bagi keamanan internasional.

Menurutnya, sanksi ekonomi dan upaya diplomasi selama puluhan tahun belum mampu menghentikan aktivitas destabilisasi yang dilakukan Teheran.

Mengapa China Murka atas Kematian Pemimpin Tertinggi Iran?
Artikel Selanjutnya

Mengapa China Murka atas Kematian Pemimpin Tertinggi Iran?

Penulis: Redaksi
Diterbitkan: 8 Maret 2026, 09:41 WIB · Diperbarui: 25 Maret 2026, 01:46 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

Pusterad Jadikan Maulid Nabi Momentum Perkuat Pengabdian

Konten Redaksi Jumat, 18 September 2026 | 16:57 WIB

Lapas Bandanaira Gelar Salat Istisqa, Warga Binaan Diajak Perbanyak Istighfar dan Doa

Konten dari Pengguna Siaran Pers Jumat, 18 September 2026 | 09:39 WIB

Perkuat Pembinaan Kerohanian, Lapas Bandanaira Koordinasi dengan KUA Banda

Konten dari Pengguna Siaran Pers Kamis, 17 September 2026 | 11:18 WIB

Produktif dan Berkelanjutan, Lapas Bandanaira Kembali Panen Sayuran Hidroponik

Konten dari Pengguna Siaran Pers Kamis, 17 September 2026 | 11:07 WIB

Perkuat Pengamanan Hari Libur, Polsek Cipocok Jaya Laksanakan Patroli Sambang ke Lapas Serang

Konten dari Pengguna Siaran Pers Kamis, 17 September 2026 | 09:20 WIB

APROPI Dorong Pestisida Bermutu untuk Perkuat Ketahanan Pangan Indonesia

Konten Redaksi Rabu, 16 September 2026 | 18:30 WIB

Panen 35 Ikat Sayuran Hidroponik, Lapas Bandanaira Perkuat Program Ketahanan Pangan

Konten dari Pengguna Siaran Pers Rabu, 16 September 2026 | 09:32 WIB

Cegah Penyelundupan Barang Terlarang, Lapas Batang Perketat Pemeriksaan Barang Titipan

Konten dari Pengguna Siaran Pers Selasa, 15 September 2026 | 13:21 WIB

Suahasil Nazara Resmi Jadi Menkeu, Ini Rekam Jejaknya

Konten Redaksi Senin, 14 September 2026 | 20:54 WIB

Ciptakan Lapas Kondusif, Kalapas Batang Tegaskan Pentingnya Sinergi Petugas dan Warga Binaan

Konten dari Pengguna Siaran Pers Minggu, 13 September 2026 | 10:33 WIB