"Ini adalah bagian dari akuntabilitas saya selama bertugas di sana, terutama saat saya berangkat ke Singapura itu kondisinya tengah badai pandemi COVID-19 yang tidak mudah," sambungnya.
Buku ini bukan sekadar memoar birokrasi, melainkan catatan sekelumit pengalaman singkat selama menjalani profesi sebagai Dubes. Bagi Tommy, menulis adalah cara memastikan kalau pers tidak terlupakan.
"Menulis memaksa kita untuk berpikir sistematis dan strategis. Selama jadi Dubes, saya tidak pernah berhenti menulis minimal seminggu sekali. Jika berhenti, akan sulit untuk memulainya kembali," tegas Tommy.
Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir, memberikan apresiasi tinggi terhadap lahirnya karya-karya ini. Menurutnya, buku-buku yang diluncurkan mencerminkan spektrum pers yang luas, mulai dari isu profesionalisme hingga kearifan lokal.
Peluncuran ini menjadi pengingat bagi insan pers di seluruh tanah air. Di saat kecerdasan buatan dan arus informasi instan mendominasi, kualitas tulisan menjadi benteng terakhir kepercayaan publik.
"Kita menghadapi disrupsi ekonomi dan sumber berita yang luar biasa. Satu-satunya jalan adalah meningkatkan profesionalisme dan memperbaiki kualitas melalui literasi yang sistematis," kata Tommy.
Melalui enam buku ini, PWI menegaskan bahwa wartawan boleh berganti peran—menjadi dubes, pejabat, atau pengusaha—namun napas kepenulisan harus tetap mengalir sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada bangsa. ***