Lanjut dia, sinergi lintas sektor juga menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, kondusif, dan bebas dari pengaruh intoleransi serta radikalisme yang banyak menyerang dan mempengaruhi para pelajar.
“Ketika pemerintah, sekolah, orang tua, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pelajar berjalan bersama, maka ruang bagi paham-paham yang merusak persatuan akan semakin sempit,” imbuhnya
Dia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan berjenjang sebagai salah satu upaya pencegahan dini. Melalui kegiatan seperti ini diharapkan pemahaman dan pengetahuan tentang paham radikalisme kepada para pelajar dapat semakin kuat sehingga mereka tidak mudah terpancing bahkan bisa menjadi teladan dan menginspirasi pelajar lainnya.
“Anak-anakku semua adalah estafet kepemimpinan bangsa ini. Di pundak kalian masa depan daerah dan negara dititipkan. Mudah-mudahan kegiatan ini bukan hanya hari ini saja, tetapi bisa berlanjut dan berjenjang, mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah, hingga SMA, agar paham radikalisme di Kabupaten Tangerang tidak ada yang masuk sama sekali,” ujarnya.
Kegiatan tersebut diikuti oleh guru pendamping dan perwakilan siswa SMA/SMK se-Kabupaten Tangerang, dengan menghadirkan narasumber dari unsur Densus 88, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta lembaga sosial tingkat Provinsi Banten, sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan. ***