“Jakarta, Bali, Jawa Timur, dan Banten harus punya wajah berbeda. Kalau semua seragam, daya tarik akan hilang,” ujarnya.
Gagasan grand desain ini, lanjut Andra, akan diwujudkan dalam bentuk program konkret yang melibatkan banyak pemangku kepentingan di tingkat lokal maupun nasional. “Dengan sinergi dan transformasi yang jelas, Banten siap menjadi bagian dari sistem pariwisata nasional yang inklusif dan berdaya saing,” tegasnya.
Wakil Gubernur Daerah Khusus Jakarta Rano Karno yang turut hadir dalam forum tersebut mendukung gagasan tersebut. Ia menilai kerja sama antarprovinsi berbasis potensi lokal mampu meningkatkan daya saing pariwisata nasional.
“Pengalaman saya waktu memimpin Banten, kita angkat Seba Baduy dan hasilnya luar biasa. Strategi tepat bisa membuat potensi lokal menjadi magnet wisata,” kata Rano.
Ia menambahkan, dengan sekitar 70 juta pergerakan penumpang per tahun melalui Bandara Soekarno-Hatta, potensi untuk mendorong wisata ke daerah sekitar sangat besar. “Kalau sebagian kecil dari arus itu diarahkan ke Banten, dampaknya luar biasa bagi ekonomi lokal,” ujarnya.
Melalui forum FKD MPU, pemerintah daerah berharap terwujud kerja sama konkret berbasis potensi lokal dan berorientasi pada keberlanjutan, yang dapat menjadi model pengembangan pariwisata nasional ke depan.