Ikuti Kami
⚡ Web

Aktivis atau Akademisi? Begini Pandangan Presiden Mahasiswa STAI Wasilatul Falah

Penulis
Selasa, 11 Februari 2025 | 17:52 WIB

Perdebatan tentang peran aktivis dan akademisi dalam dunia mahasiswa terus menjadi diskusi yang menarik. Sebagian menilai bahwa aktivis memiliki peran penting dalam mengawal kebijakan dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Sementara itu, masyarakat menganggap akademisi sebagai agen perubahan yang memberikan solusi berbasis kajian ilmiah.

Saepullah, Presiden Mahasiswa STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung periode 2024-2025 yang akrab disapa Bodong, menegaskan bahwa aktivis dan akademisi tidak bisa dipisahkan dalam perjuangan mahasiswa. Menurutnya, keduanya harus berjalan beriringan untuk menciptakan perubahan yang nyata.

“Kita butuh keseimbangan. Bodong mengatakan bahwa tanpa akademik, aktivisme bisa jadi hanya gerakan emosional tanpa arah. Sementara itu, akademisi yang apatis terhadap sosial akan kehilangan relevansi di masyarakat. Ujaran tersebut disampaikannya saat ditemui di kampus STAI Wasilatul Falah, Lebak, Banten.

[caption align="aligncenter" width="2560"] dok/prib | Saepullah : presiden mahasiswa STAI Wasilatul Falah[/caption]

Selain menjabat sebagai Presiden Mahasiswa, Bodong juga aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Menurutnya, organisasi mahasiswa harus menjadi wadah yang tidak hanya membentuk kader-kader intelektual tetapi juga mencetak generasi yang peka terhadap isu sosial.

Aktivisme Berbasis Ilmu

Bodong menegaskan, "Aktivisme yang efektif harus berdasar pada kajian ilmiah." Menurutnya, banyak gerakan mahasiswa yang gagal karena hanya mengandalkan semangat tanpa data dan analisis mendalam.

“Kritik tanpa dasar ilmiah hanya akan menjadi omong kosong. "Solusi konkret yang bisa dipertanggungjawabkan harus kita punya jika ingin menyuarakan perubahan," jelasnya.

Sebagai contoh, ia menyoroti isu-isu pendidikan dan kebijakan kampus yang sering kali menjadi sorotan mahasiswa. Menurutnya, tuntutan mahasiswa akan lebih didengar jika disampaikan dengan data dan kajian akademis yang kuat.

“Misalnya, saat kita menuntut kebijakan baru di kampus, kita harus punya data tentang dampaknya. Jangan hanya berteriak tanpa solusi,” tambahnya.

Penulis

Tags

Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

Pemkab Lebak Gelar Kemah Budaya dalam Rangka HPN 2026

Senin, 19 Januari 2026 | 12:23 WIB

Lebak Harap Dana Afirmasi Infrastruktur dari Pusat

Minggu, 18 Januari 2026 | 20:20 WIB

Hujan Ringan Melanda Banten, Waspada Perubahan Cuaca!

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:06 WIB
↑ Kembali ke atas