BerandaPendidikanKabag TU Kanwil Kemenag Banten Menyampaikan Pendalaman Materi SPI & Ilmu Faroidh/Mawarits...

Kabag TU Kanwil Kemenag Banten Menyampaikan Pendalaman Materi SPI & Ilmu Faroidh/Mawarits di Pesantren Manahijus Sadat

LEBAK – Pada hari Sabtu, 27 April 2024, sebuah kunjungan kerja yang penting dilakukan oleh Kepala Bagian Tata Usaha Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kabag TU Kanwil Kemenag) Provinsi Banten, Iwan Falahudin. Kunjungan ini berlokasi di Pondok Pesantren Modern Manahijus Sadat, yang terletak di Kampung Serdang, Desa Pasar Keong, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Banten, sekitar 3 km dari terminal Mandala.

Pesantren modern ini dipimpin oleh K.H. Sulaiman Effendi, M.Pd., seorang kyai lulusan pesantren modern Daarus Salam Gontor. Beliau didampingi oleh sang istri tercinta, Ustadzah Nyai Umi Badriatul Imamah, S.Pd.

Selama kunjungan ini, Iwan Falahudin menjadi narasumber pendalaman materi SPI/Sejarah Peradaban Islam dan materi ilmu Faroidh/Mawarits. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya memahami sejarah sebagai pengungkapan peristiwa yang terjadi pada masa lalu untuk dapat diambil pelajarannya demi perbaikan hidup dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang.

Beliau memberikan contoh tentang berbagai kerajaan besar yang pernah jaya dan eksis di Nusantara selama ratusan tahun, seperti Kerajaan Tarumanegara, Kutai, Mataram, Sriwijaya, Majapahit, Pajajaran, Demak, Pajang, Banten dan lain-lain. Namun, saat ini, mereka hanya tinggal kenangan saja. Hal yang sama juga terjadi pada Dinasti Umayyah di Damaskus Syiria, Dinasti Abbasiyah di Baghdad Iraq, dan Dinasti Turki Utsmani yang pernah menguasai seperempat dunia.

Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya bagi generasi sekarang untuk memperbaiki, dan memperkokoh nilai persaudaraan, kesetaraan, dan toleransi, dalam rangka meningkatkan persatuan dan kesatuan menuju bangsa Indonesia yang maju, aman, damai, dan berdaulat.

Selain itu, dalam pendalaman ilmu Faroidh/Mawarits, Iwan Falahudin menyampaikan bahwa salah satu ciri kiamat diantaranya adalah hilangnya kesadaran dan kemauan kaum muslimin untuk mempelajari dan mempraktikkan pembagian warisan berdasarkan ilmu Faroidh/Mawarits. Ini menjadi peringatan bagi kita semua untuk terus belajar dan menerapkan ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Asesmen Kompetensi ASN Kemenag RI 2024: Pelaksanaan Pertamanya di Kanwil Kemenag Prov. Banten

(her/red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

- Advertisment -

Recent Comments