Masyarakat suku Banten yang tinggal di pesisir pantai mengalami kerugian yang sangat besar akibat letusan Krakatau. Banyak desa yang luluh lantak, tanaman yang rusak, hewan yang mati, dan sumber air yang tercemar.
Banyak pula korban jiwa yang tidak dapat diidentifikasi atau dikuburkan dengan layak. Selain itu, letusan Krakatau juga mempengaruhi iklim dan ekologi di Banten, yang menyebabkan gagal panen, kelaparan, dan penyakit.
Salah satu dampak sosial yang ditimbulkan oleh letusan Krakatau adalah munculnya gerakan sosial Banten pada tahun 1888. Gerakan ini dipimpin oleh Ki Buyut Trusmi, seorang ulama dan tokoh masyarakat yang berasal dari Desa Trusmi, Cirebon.
Ki Buyut Trusmi mengajak masyarakat Banten untuk bangkit melawan penjajahan Belanda dan mengembalikan kejayaan Banten. Ia juga mengklaim bahwa dirinya adalah keturunan dari Sultan Ageng dan memiliki kekuatan gaib yang dapat melindungi pengikutnya dari peluru dan senjata Belanda.
Gerakan sosial Banten 1888 mendapat dukungan dari banyak lapisan masyarakat, terutama dari kalangan petani, nelayan, dan pedagang yang merasa tertindas oleh pemerintah kolonial. Gerakan ini juga dipengaruhi oleh fanatisme agama yang meningkat akibat bencana alam yang dianggap sebagai tanda kemurkaan Tuhan.
Gerakan ini menyebar ke berbagai daerah di Banten, seperti Cilegon, Serang, Pandeglang, dan Lebak. Gerakan ini melakukan berbagai aksi protes, seperti menolak membayar pajak, membakar rumah-rumah Belanda, dan menyerang pos-pos militer.
Namun, gerakan sosial Banten 1888 tidak berlangsung lama. Belanda berhasil menumpas gerakan ini dengan kekuatan militer yang besar dan strategi yang cerdik.
Belanda juga memanfaatkan perpecahan di antara para pemimpin gerakan, yang memiliki pandangan dan tujuan yang berbeda. Ki Buyut Trusmi sendiri ditangkap oleh Belanda pada bulan Juni 1888 dan dibuang ke Ambon, di mana ia meninggal pada tahun 1895.