DISTRIKBANTENNEWS.COM – Krakatau adalah salah satu gunung berapi paling terkenal di dunia, yang meletus secara dahsyat pada tahun 1883 dan menyebabkan bencana besar bagi masyarakat di sekitarnya. Salah satu daerah yang terkena dampak letusan Krakatau adalah Banten, sebuah provinsi di ujung barat Pulau Jawa yang memiliki sejarah dan budaya yang kaya. Bagaimana letusan Krakatau mempengaruhi kehidupan dan perjuangan masyarakat suku Banten? Artikel ini akan mengulas beberapa aspek yang berkaitan dengan hal tersebut.
Banten adalah salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara, yang didirikan pada abad ke-16 oleh Maulana Hasanuddin, putra dari Sunan Gunung Jati, salah satu penyebar agama Islam di Jawa. Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), yang berhasil memperluas wilayah dan mengembangkan perdagangan dengan berbagai negara. Banten juga dikenal sebagai pusat penyebaran Islam dan ilmu pengetahuan, serta memiliki tradisi kesenian dan kebudayaan yang unik.
Namun, kejayaan Banten mulai meredup sejak akhir abad ke-17, ketika Belanda mulai mengintervensi urusan dalam negeri Banten dan memicu perang saudara antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji. Belanda kemudian berhasil menguasai Banten secara penuh pada tahun 1813, setelah mengalahkan Sultan Syaifuddin, cucu dari Sultan Ageng. Banten kemudian menjadi bagian dari Hindia Belanda dan mengalami penindasan dan kemiskinan akibat sistem tanam paksa dan ekonomi liberal yang diterapkan oleh pemerintah kolonial.
Dampak Letusan Krakatau
Letusan Krakatau pada tanggal 26-27 Agustus 1883 adalah salah satu bencana alam terbesar yang pernah terjadi di bumi. Letusan ini menghasilkan suara yang terdengar hingga Australia dan Afrika, debu vulkanik yang menutupi atmosfer hingga menurunkan suhu global, dan gelombang tsunami yang mencapai ketinggian 30 meter dan menewaskan sekitar 36.000 orang di kawasan Banten dan Lampung. Letusan ini juga menghancurkan sebagian besar pulau Krakatau dan meninggalkan tiga pulau kecil, yaitu Rakata, Sertung, dan Panjang.
Masyarakat suku Banten yang tinggal di pesisir pantai mengalami kerugian yang sangat besar akibat letusan Krakatau. Banyak desa yang luluh lantak, tanaman yang rusak, hewan yang mati, dan sumber air yang tercemar. Banyak pula korban jiwa yang tidak dapat diidentifikasi atau dikuburkan dengan layak. Selain itu, letusan Krakatau juga mempengaruhi iklim dan ekologi di Banten, yang menyebabkan gagal panen, kelaparan, dan penyakit.
Salah satu dampak sosial yang ditimbulkan oleh letusan Krakatau adalah munculnya gerakan sosial Banten pada tahun 1888. Gerakan ini dipimpin oleh Ki Buyut Trusmi, seorang ulama dan tokoh masyarakat yang berasal dari Desa Trusmi, Cirebon. Ki Buyut Trusmi mengajak masyarakat Banten untuk bangkit melawan penjajahan Belanda dan mengembalikan kejayaan Banten. Ia juga mengklaim bahwa dirinya adalah keturunan dari Sultan Ageng dan memiliki kekuatan gaib yang dapat melindungi pengikutnya dari peluru dan senjata Belanda.
Gerakan sosial Banten 1888 mendapat dukungan dari banyak lapisan masyarakat, terutama dari kalangan petani, nelayan, dan pedagang yang merasa tertindas oleh pemerintah kolonial. Gerakan ini juga dipengaruhi oleh fanatisme agama yang meningkat akibat bencana alam yang dianggap sebagai tanda kemurkaan Tuhan. Gerakan ini menyebar ke berbagai daerah di Banten, seperti Cilegon, Serang, Pandeglang, dan Lebak. Gerakan ini melakukan berbagai aksi protes, seperti menolak membayar pajak, membakar rumah-rumah Belanda, dan menyerang pos-pos militer.
Namun, gerakan sosial Banten 1888 tidak berlangsung lama. Belanda berhasil menumpas gerakan ini dengan kekuatan militer yang besar dan strategi yang cerdik. Belanda juga memanfaatkan perpecahan di antara para pemimpin gerakan, yang memiliki pandangan dan tujuan yang berbeda. Ki Buyut Trusmi sendiri ditangkap oleh Belanda pada bulan Juni 1888 dan dibuang ke Ambon, di mana ia meninggal pada tahun 1895.
Letusan Krakatau 1883 adalah sebuah peristiwa yang memiliki dampak yang sangat besar bagi masyarakat suku Banten, baik dari segi fisik, ekonomi, maupun sosial. Letusan ini juga menjadi salah satu faktor yang memicu gerakan sosial Banten 1888, yang merupakan salah satu bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajahan Belanda. Meskipun gerakan ini gagal, tetapi gerakan ini menunjukkan semangat dan keberanian masyarakat Banten dalam mempertahankan identitas dan martabatnya sebagai bangsa yang berdaulat.
*red