Garut, 17 Agustus 2026 - Pondok Pesantren Hidayatul Faizien kembali melaksanakan upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB tersebut berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatul Faizien dan diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri atas santri, ustadz, pengurus, serta keluarga besar pesantren.
Pelaksanaan upacara HUT Kemerdekaan di Pondok Pesantren Hidayatul Faizien merupakan bagian dari tradisi yang telah dibangun sejak 2016. Kegiatan tersebut lahir dari semangat untuk menghadirkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme di lingkungan pesantren sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Menurut keterangan yang disampaikan keluarga besar pesantren, tradisi tersebut tidak terlepas dari sosok KH. A. Wajihaddien. Semasa hidupnya, beliau dikenal memiliki perhatian terhadap pelaksanaan upacara pengibaran Bendera Merah Putih. Hampir setiap tahun, KH. A. Wajihaddien mengikuti upacara pengibaran bendera di Alun-alun Kabupaten Garut. Meskipun tidak tercatat sebagai peserta resmi, beliau tetap hadir di luar pagar alun-alun dengan membawa kursi dan payung sendiri. Ketika prosesi pengibaran bendera berlangsung, beliau berdiri dan turut memberikan penghormatan kepada Sang Merah Putih.
Kebiasaan tersebut kemudian menjadi salah satu inspirasi bagi keluarga besar Pondok Pesantren Hidayatul Faizien untuk menyelenggarakan upacara pengibaran bendera di lingkungan pesantren. Sejak 2016, pelaksanaan upacara HUT RI menjadi salah satu bentuk pendidikan kebangsaan bagi para santri sekaligus penghormatan kepada KH. A. Wajihaddien sebagai guru, orang tua, dan panutan keluarga besar pesantren.
Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Faizien, A.H Fahmy Dzalmar Fawaiedh, mengatakan bahwa penyelenggaraan upacara di lingkungan pesantren memiliki latar belakang historis dan nilai pendidikan yang penting bagi generasi santri.
“Upacara ini lahir dari keteladanan KH. A. Wajihaddien. Beliau hampir setiap tahun mengikuti upacara pengibaran bendera di Alun-alun Kabupaten Garut. Walaupun tidak menjadi peserta resmi, beliau tetap hadir, membawa kursi dan payung sendiri, kemudian berdiri dan memberikan penghormatan ketika bendera dikibarkan,” kata A.H Fahmy.
Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan bahwa penghormatan terhadap kemerdekaan dan simbol negara dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk dari lingkungan pesantren. Karena itu, nilai tersebut kemudian diteruskan melalui pelaksanaan upacara di Pondok Pesantren Hidayatul Faizien.
“Dari situlah kemudian muncul gagasan untuk melaksanakan upacara pengibaran bendera di pondok pesantren. Selain sebagai bentuk patriotisme dan nasionalisme, kegiatan ini juga kami dedikasikan untuk beliau sebagai guru kami, orang tua kami, dan panutan kami,” ujarnya.