Rabu, 21 Oktober 2026

Sinergi Seni dan Psikologi: Atmosa Experience Hadirkan Inovasi Mental Wellness Terdepan di Indonesia

jakarta jakarta
BAGIKAN:
Sinergi Seni dan Psikologi: Atmosa Experience Hadirkan Inova...
0
Sinergi Seni dan Psikologi: Atmosa Experience Hadirkan Inovasi Mental Wellness Terdepan di Indonesia

Jakarta – Tingginya ritme kehidupan urban dan dinamika masyarakat perkotaan kerap menyisakan kelelahan mental (mental burnout). Terbatasnya ruang aman (safe space) untuk bercerita, mengekspresikan emosi, dan mengeksplorasi diri secara bebas melatarbelakangi lahirnya Atmosa Experience, gerakan yang memadukan pendekatan seni dan psikologi sebagai media pemulihan jiwa (mental healing).

Menurut penyelenggara, Atmosa Experience hadir sebagai gerakan pemulihan mental berbasis kolaborasi seni dan psikologi klinis yang pertama di Indonesia.

Digagas Praktisi Kreatif Berlatar Psikologi

Inisiatif ini digagas oleh Steven Mesakh Aji Nugroho, praktisi kreatif berlatar belakang pendidikan S1 Psikologi dan S2 Bisnis. Kecintaannya pada seni, kesehatan mental, dan dinamika manusia mendorong Steven menciptakan metode pelepasan emosi yang tidak kaku, keluar dari batasan ruang konsultasi konvensional menuju pengalaman terapeutik yang imersif.

Steven didampingi dua co-founder, yaitu Nadira Alya Putri dan Sherlyna Anugerah Putri, yang memiliki ketertarikan mendalam pada kompleksitas interaksi manusia. Bersama-sama, mereka membangun ekosistem ruang ketiga (third place) yang mengedepankan empati, penerimaan diri, dan koneksi antarmanusia.

Agar ruang pelepasan emosi berjalan utuh dan terarah, Atmosa Experience melibatkan psikolog profesional, Sarah Fatimah Azzahra, M.Psi., Psikolog, untuk mendampingi aspek edukasi dan pemahaman kesehatan mental peserta melalui pendekatan framework 3R: Recall, Release, Reconnect.

Dari Raut Sendu Menjadi Joyful

Dampak gerakan ini dirasakan langsung oleh peserta yang telah mengikuti sesi-sesi sebelumnya. Peserta yang datang dengan raut beban berat dan sendu perlahan berubah menjadi senyum lega dan penuh kegembiraan saat sesi berakhir.

Mengapa Orang yang Pendiam Sering Dianggap Tidak Kompeten?
Artikel Selanjutnya

Mengapa Orang yang Pendiam Sering Dianggap Tidak Kompeten?

Kontributor: Ayu Lestari Editor: Herfa Al Jihad
Diterbitkan: 20 Oktober 2026, 14:56 WIB · Diperbarui: 20 Oktober 2026, 20:37 WIB
Sumber: @atmosacreative

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini

Sinergi Seni dan Psikologi: Atmosa Experience Hadirkan Inovasi Mental Wellness Terdepan di Indonesia

Konten dari Pengguna Berita & Kegiatan Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:56 WIB

Mengapa Orang yang Pendiam Sering Dianggap Tidak Kompeten?

Konten dari Pengguna Opini Sabtu, 17 Oktober 2026 | 15:00 WIB

Mengapa Kita Takut Bicara di Depan Orang Banyak?

Konten dari Pengguna Opini Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:23 WIB

Bukan Cuma Soal Harga: Mengapa Mahasiswa Mulai Meninggalkan Toko Fashion Offline?

Konten dari Pengguna Opini Sabtu, 17 Oktober 2026 | 10:14 WIB

Angka Bisa Bicara, tetapi Manusia Harus Menjelaskannya: Peran Komunikasi dalam Keuangan

Konten dari Pengguna Opini Jumat, 16 Oktober 2026 | 16:18 WIB

Jangan Asal Ikut Tren, Berpikir Kritis Penting dalam Mengambil Keputusan Keuangan.

Konten dari Pengguna Opini Jumat, 16 Oktober 2026 | 16:15 WIB

Bebas Berbicara, Tetap Bertanggung Jawab

Konten dari Pengguna Opini Jumat, 16 Oktober 2026 | 08:27 WIB

Dari Kerokan ke Algoritma: Ketika Pengobatan Tradisional Bertemu Dunia Digital

Konten dari Pengguna Opini Senin, 28 September 2026 | 14:01 WIB

ILHAM 7S: Kreator Gaming Indonesia dengan Perjalanan Konsisten Membangun Komunitas Digital

Konten dari Pengguna Cerita Kamis, 24 September 2026 | 08:46 WIB

JENI NUR AINI Menuntaskan 10K Pertama di TNI Run 2026

Konten dari Pengguna Cerita Minggu, 20 September 2026 | 12:27 WIB