Dalam kehidupan sehari-hari, kemampuan seseorang sering kali dinilai dari cara mereka berbicara. Orang yang aktif menyampaikan pendapat, berani berbicara di depan umum, dan mampu menguasai percakapan cenderung dianggap lebih percaya diri dan kompeten. Sebaliknya, orang yang lebih banyak diam sering kali dinilai kurang mampu, tidak percaya diri, bahkan dianggap tidak memiliki banyak pengetahuan. Padahal, apakah seseorang yang jarang berbicara benar-benar memiliki kemampuan yang lebih rendah?Pandangan tersebut masih sering ditemukan, baik di lingkungan pendidikan maupun dunia kerja. Dalam kegiatan diskusi, misalnya, seseorang yang aktif berbicara kerap lebih mudah mendapatkan perhatian.
Sementara itu, mereka yang memilih mendengarkan dan berpikir sebelum menyampaikan pendapat terkadang justru dianggap kurang berkontribusi. Akibatnya, kemampuan seseorang seolah-olah diukur berdasarkan seberapa banyak ia berbicara, bukan dari kualitas pemikiran dan tindakan yang ditunjukkannya.Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat masih sering menyamakan kemampuan berbicara dengan kompetensi. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda. Kemampuan berbicara merupakan salah satu bagian dari keterampilan komunikasi, sedangkan kompetensi mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.
Seseorang mungkin tidak terlalu aktif dalam percakapan, tetapi mampu memberikan solusi yang tepat, bekerja secara teliti, dan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik.Dalam konteks public speaking, anggapan tersebut menjadi semakin menarik untuk dibahas. Public speaking sering kali identik dengan keberanian tampil di depan banyak orang, berbicara dengan lancar, dan menunjukkan rasa percaya diri. Padahal, komunikasi yang baik bukan sekadar tentang seberapa lantang seseorang berbicara, melainkan juga bagaimana pesan disampaikan secara jelas, terstruktur, dan mudah dipahami.
Seseorang yang berbicara dengan tenang pun dapat menjadi komunikator yang baik selama mampu menyampaikan gagasannya secara efektif.Meskipun demikian, bukan berarti kemampuan berbicara tidak penting. Dalam dunia pendidikan dan pekerjaan, kemampuan menyampaikan ide, memberikan pendapat, serta menjelaskan suatu persoalan tetap dibutuhkan. Orang yang pendiam juga perlu memiliki keberanian untuk berbicara ketika situasi menuntutnya. Namun, kemampuan tersebut seharusnya dikembangkan tanpa mengharuskan setiap orang memiliki gaya komunikasi yang sama.
Persoalan muncul ketika lingkungan hanya memberikan perhatian kepada orang-orang yang paling aktif berbicara. Dalam diskusi kelompok atau rapat kerja, misalnya, orang yang cepat menyampaikan pendapat bisa lebih mudah mendominasi percakapan. Sementara itu, orang yang membutuhkan waktu untuk menyusun pemikirannya berisiko kehilangan kesempatan untuk menyampaikan ide. Padahal, gagasan yang baik tidak selalu muncul dari orang yang paling cepat berbicara.Oleh karena itu, diperlukan perubahan cara pandang dalam menilai kemampuan seseorang. Lingkungan pendidikan perlu memberikan ruang bagi setiap mahasiswa untuk menyampaikan pendapat tanpa takut diremehkan.
Begitu pula di dunia kerja, penilaian terhadap karyawan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada kemampuan berbicara di depan umum, tetapi juga mempertimbangkan kualitas pekerjaan, kemampuan menyelesaikan masalah, tanggung jawab, dan kontribusi terhadap tim.Pada akhirnya, menjadi pendiam bukan berarti tidak memiliki kemampuan, sebagaimana menjadi orang yang banyak berbicara juga tidak otomatis menunjukkan kompetensi yang tinggi. Setiap orang memiliki karakter dan cara komunikasi yang berbeda. Yang perlu diperhatikan bukanlah siapa yang paling banyak berbicara, melainkan siapa yang mampu menyampaikan pemikiran dengan baik dan memberikan kontribusi yang berarti. Sebab, kemampuan seseorang tidak seharusnya diukur dari kerasnya suara, tetapi dari kualitas gagasan dan tindakan yang ditunjukkannya.
Oleh : Shahnaz Zahira Virgi (231010505142)