Garut, 15 Juli 2026 – Pelaksanaan Masa Ta'aruf Murid Baru (MATAMUDA) di MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur tidak hanya difokuskan pada pengenalan lingkungan madrasah, tetapi juga diarahkan untuk membangun karakter peserta didik melalui berbagai materi edukatif yang relevan dengan kehidupan remaja saat ini. Salah satu materi yang mendapat perhatian khusus adalah edukasi Anti Bullying yang disampaikan oleh Tri Sinta Aprilia, S.Pd., S.S.. Materi tersebut dihadirkan sebagai bentuk kepedulian madrasah terhadap meningkatnya kasus perundungan yang belakangan ini banyak menjadi sorotan publik. Praktik bullying tidak lagi terbatas pada lingkungan sekolah, tetapi juga kerap berlanjut di luar jam pelajaran melalui media sosial maupun pergaulan sehari-hari. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan pendidikan akademik agar peserta didik memiliki kemampuan untuk menghargai sesama, membangun empati, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi semua. Melalui penyampaian materi ini, MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur ingin menanamkan kesadaran sejak hari pertama bahwa setiap peserta didik memiliki hak untuk belajar tanpa rasa takut, tanpa intimidasi, dan tanpa perlakuan yang merendahkan martabatnya.
Dalam penyampaian materinya, Tri Sinta Aprilia memanfaatkan teknologi pembelajaran dengan menampilkan presentasi menggunakan proyektor sehingga suasana kelas menjadi lebih menarik, komunikatif, dan interaktif. Selain memperkenalkan konsep dasar mengenai bullying, peserta didik juga diajak mengenal penggunaan Microsoft PowerPoint sebagai salah satu media pembelajaran yang sering digunakan di jenjang pendidikan menengah. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan pemahaman mengenai bahaya perundungan, tetapi sekaligus memperkenalkan peserta didik baru pada pemanfaatan teknologi sebagai sarana belajar yang positif. "Kami sengaja menggunakan media presentasi agar materi lebih mudah dipahami dan peserta didik tidak merasa bosan. Di sisi lain, kami juga ingin mengenalkan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti belajar, berdiskusi, dan menyampaikan ide. Jangan sampai teknologi justru menjadi alat untuk menyakiti orang lain melalui ejekan, hinaan, atau penyebaran komentar yang merugikan teman sendiri," jelas Tri Sinta Aprilia di hadapan seluruh peserta didik.

Penyampaian materi yang disertai ilustrasi, contoh kasus, serta tayangan visual membuat peserta didik lebih mudah memahami berbagai bentuk bullying, baik yang bersifat fisik, verbal, sosial, maupun yang terjadi di ruang digital. Suasana pembelajaran semakin hidup ketika Tri Sinta Aprilia mengajak seluruh peserta didik berdiskusi secara terbuka mengenai pengalaman yang pernah mereka alami selama berada di lingkungan sekolah sebelumnya maupun di lingkungan pergaulan. Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar memberikan teori, melainkan membuka ruang dialog agar peserta didik merasa aman untuk menyampaikan pengalaman yang mungkin selama ini mereka pendam. "Materi ini kami sampaikan untuk mengulik pengalaman peserta didik dan membuat mereka merasa nyaman sehingga berani mengutarakan apakah mereka pernah menjadi korban ataupun pernah melakukan tindakan yang termasuk bullying. Kami ingin mereka memahami bahwa mengakui pengalaman bukanlah sebuah kelemahan, melainkan langkah awal untuk memperbaiki keadaan. Ketika anak-anak merasa didengar tanpa dihakimi, mereka akan lebih mudah terbuka dan kita bisa bersama-sama mencari solusi agar peristiwa serupa tidak terulang kembali," ungkapnya.
Pendekatan yang hangat dan penuh empati tersebut berhasil menciptakan suasana yang kondusif. Pada akhir sesi, beberapa peserta didik mulai mengangkat tangan dan dengan penuh keberanian menceritakan bahwa mereka pernah menjadi korban perundungan, baik berupa ejekan, dikucilkan dalam pergaulan, maupun menerima perlakuan yang membuat mereka kehilangan rasa percaya diri. Momen tersebut menjadi bukti bahwa masih banyak anak yang membutuhkan ruang aman untuk menyampaikan perasaan dan pengalaman mereka.
Pengakuan dari beberapa peserta didik tersebut menjadi refleksi penting bagi seluruh warga madrasah bahwa praktik bullying masih menjadi persoalan nyata yang memerlukan perhatian bersama. Perundungan tidak hanya meninggalkan luka secara fisik, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental, menurunnya motivasi belajar, hilangnya rasa percaya diri, hingga terganggunya perkembangan sosial peserta didik. Oleh karena itu, upaya pencegahan tidak dapat dibebankan kepada guru semata, melainkan memerlukan keterlibatan seluruh warga madrasah, orang tua, serta lingkungan masyarakat. Budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, dan peduli terhadap teman harus dibangun melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi seperti yang dilaksanakan pada MATAMUDA menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran bahwa tindakan yang dianggap sebagai candaan ternyata dapat melukai perasaan orang lain. Dengan memahami dampak buruk bullying, peserta didik diharapkan mampu menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam bertutur kata, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, serta berani menghentikan tindakan perundungan ketika melihatnya terjadi di lingkungan sekitar.

Melalui penyampaian materi Anti Bullying yang dikemas secara komunikatif, interaktif, dan memanfaatkan teknologi pembelajaran, MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan ramah anak. MATAMUDA bukan hanya menjadi ajang pengenalan terhadap ruang kelas, guru, maupun tata tertib madrasah, tetapi juga menjadi momentum untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan yang akan menjadi bekal peserta didik dalam menjalani kehidupan di masa depan. Madrasah berharap keberanian beberapa peserta didik yang telah menyampaikan pengalaman mereka menjadi awal terbentuknya budaya saling mendukung, saling melindungi, dan saling menguatkan. Dengan sinergi antara guru, peserta didik, orang tua, dan seluruh warga madrasah, praktik bullying diharapkan dapat dicegah sejak dini sehingga lingkungan sekolah benar-benar menjadi tempat yang menghadirkan rasa aman, nyaman, dan membahagiakan bagi setiap anak. Dari lingkungan madrasah yang bebas dari perundungan, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati, kepedulian, dan karakter yang kuat dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.
Kontributor : Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Satuan Kerja : MIS AR-RAUDHOTUN NUR
Dokumentasi: Ari Herdiyansyah, S.Pd