Garut, 15 Juli 2026 – Suasana penuh keceriaan tampak mewarnai pelaksanaan Masa Ta'aruf Murid RA (MATAMURA) di RA Ar-Raudhotun Nur. Tawa riang anak-anak terdengar saat mereka mengikuti berbagai permainan edukatif yang telah dirancang oleh para guru sebagai bagian dari proses adaptasi di lingkungan sekolah. Berbeda dengan pembelajaran yang bersifat formal, kegiatan ini dikemas melalui permainan yang menyenangkan sehingga anak-anak dapat mengenal guru, teman baru, serta lingkungan belajar tanpa merasa tertekan. Permainan edukatif dipilih karena sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang belajar melalui pengalaman langsung, eksplorasi, dan aktivitas yang menggembirakan. Melalui pendekatan tersebut, RA Ar-Raudhotun Nur tidak hanya membantu anak melewati masa transisi dari rumah ke sekolah, tetapi juga mulai menanamkan salah satu karakter penting dalam tumbuh kembang mereka, yaitu kemandirian. Bagi anak usia dini, kemampuan untuk berani mencoba, menyelesaikan tugas sederhana, serta melakukan berbagai aktivitas tanpa selalu bergantung kepada orang tua merupakan fondasi yang akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial, emosional, dan kepercayaan dirinya di masa mendatang.
Ani Maryani, S.Pd selaku guru RA menjelaskan bahwa menumbuhkan kemandirian tidak dapat dilakukan dengan cara memaksa anak untuk langsung mampu melakukan segala sesuatu sendiri. Menurutnya, proses tersebut harus dibangun secara bertahap melalui pengalaman belajar yang menyenangkan, penuh kasih sayang, dan sesuai dengan tahapan perkembangan anak. Oleh karena itu, berbagai permainan edukatif yang disiapkan selama MATAMURA bukan hanya bertujuan menghibur, melainkan menjadi media pembelajaran untuk melatih keberanian, tanggung jawab, kemampuan mengambil keputusan sederhana, hingga membiasakan anak melakukan aktivitas secara mandiri. "Anak usia dini perlu dikenalkan sejak awal bagaimana menjadi pribadi yang mandiri. Ketika mereka mulai terbiasa melakukan hal-hal sederhana sendiri, seperti menyimpan tas, mengikuti arahan guru, bermain bersama teman, atau merapikan kembali alat permainan, perlahan mereka akan belajar bahwa mereka mampu melakukan banyak hal tanpa harus selalu bergantung kepada orang tua. Tugas kami bukan mengambil alih semuanya, tetapi mendampingi dan memberikan kesempatan agar mereka berani mencoba," jelas Ani Maryani saat mendampingi peserta didik mengikuti kegiatan permainan.

Lebih lanjut, Ani Maryani menegaskan bahwa kemandirian akan tumbuh secara alami apabila anak merasa aman dan diterima di lingkungan sekolah. Perasaan nyaman menjadi faktor penting karena anak usia dini masih berada pada masa adaptasi yang sangat dipengaruhi oleh kondisi emosionalnya. Ketika anak merasa takut, tertekan, atau dipaksa, mereka cenderung menjadi pasif dan lebih memilih bergantung kepada orang tua. Sebaliknya, suasana belajar yang ramah, penuh perhatian, dan menyenangkan akan membangun rasa percaya diri sehingga anak lebih berani mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. "Kami ingin anak-anak datang ke sekolah dengan perasaan senang, bukan karena terpaksa. Saat mereka merasa aman, nyaman, disambut dengan senyuman, diajak bermain, dan dihargai setiap usahanya, maka kepercayaan diri mereka akan tumbuh. Dari rasa percaya diri itulah perlahan lahir sikap mandiri. Anak akan lebih berani berinteraksi dengan teman, mencoba hal-hal baru, serta menyelesaikan tugas sederhana sesuai kemampuan mereka," ungkap Ani. Menurutnya, keberhasilan pendidikan anak usia dini tidak hanya diukur dari kemampuan membaca atau berhitung, tetapi juga dari berkembangnya karakter positif yang menjadi bekal dalam kehidupan mereka di masa depan.
Pandangan tersebut juga disampaikan oleh Siti Aisyah, S.Pd, yang menegaskan bahwa seluruh kegiatan selama MATAMURA dirancang untuk membentuk karakter anak sesuai dengan prinsip Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Menurutnya, pendidikan anak usia dini harus dimulai dengan menghadirkan cinta, penghargaan, dan keteladanan dalam setiap aktivitas pembelajaran. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang akan lebih mudah mengembangkan rasa percaya diri, empati, tanggung jawab, serta keberanian untuk belajar secara mandiri. "Prinsip KBC mengajarkan bahwa setiap anak harus diperlakukan dengan penuh cinta dan penghormatan terhadap proses tumbuh kembangnya. Kami ingin anak-anak merasa bahwa sekolah adalah rumah kedua yang menyenangkan. Ketika mereka merasakan kasih sayang dari guru, diterima oleh teman-temannya, dan diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya, maka karakter baik akan tumbuh secara alami. Kemandirian bukan sekadar mampu melakukan sesuatu sendiri, tetapi juga berani mengambil tanggung jawab, percaya pada kemampuan diri, serta mampu menghargai orang lain," tutur Siti Aisyah. Ia berharap nilai-nilai tersebut tidak hanya tumbuh selama berada di sekolah, tetapi juga terus diperkuat melalui kerja sama yang baik antara guru dan orang tua di rumah.
Melalui permainan edukatif yang dipadukan dengan pendekatan pembelajaran yang hangat dan berorientasi pada karakter, RA Ar-Raudhotun Nur menunjukkan komitmennya dalam memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi setiap anak sejak hari pertama memasuki dunia pendidikan. MATAMURA tidak hanya menjadi kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membangun fondasi karakter yang akan menemani perjalanan belajar anak pada jenjang berikutnya. Kemandirian yang dilatih melalui aktivitas sederhana, didukung oleh suasana belajar yang aman dan menggembirakan, diharapkan mampu melahirkan anak-anak yang percaya diri, bertanggung jawab, serta memiliki keberanian untuk terus belajar dan berkembang. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta dalam setiap kegiatan, RA Ar-Raudhotun Nur optimistis dapat mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara emosional, berakhlak mulia, serta siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan sikap mandiri dan penuh percaya diri.
Kontributor : Insan Faisal Ibrahim, S.Pd
Satuan Kerja : MIS AR-RAUDHOTUN NUR