Menurutnya, apabila Festival Gabrugan dapat masuk dalam KEN, dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi kebudayaan dan pariwisata. Perputaran ekonomi masyarakat juga berpotensi meningkat seiring dengan semakin banyaknya wisatawan yang datang.
Kehadiran wisatawan dapat membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), pedagang lokal, pelaku ekonomi kreatif, pekerja seni hingga sektor jasa lainnya.
Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Festival yang berangkat dari tradisi lokal tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga dapat berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.
Festival Gabrugan sendiri memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Kecamatan Padarincang. Kegiatan tersebut tidak semata-mata menjadi pertunjukan seni, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, kekompakan dan semangat gotong royong masyarakat.
Kemegahan festival terlihat dari keterlibatan sekitar 4.000 penari yang berasal dari berbagai latar belakang. Anak-anak sekolah, mahasiswa, petani, pegiat seni dan masyarakat lokal tampil bersama dalam pertunjukan tari kolosal.
Dalam satu irama, ribuan penari membawakan Rampak Gabrugan dan Ngagurah. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama festival sekaligus memperlihatkan bagaimana seni tradisional dapat menyatukan berbagai kelompok masyarakat.
Keterlibatan ribuan penari juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pelaku seni atau pemerintah. Masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga agar kesenian daerah tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah menyambut baik gagasan agar Festival Gabrugan dikembangkan menjadi agenda pariwisata yang lebih luas. Ia bahkan mendorong agar semangat serupa dapat ditularkan ke kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Serang.