Ikuti Kami
Jumat, 31 Juli 2026 Versi Web

MEMAKNAI SEBA DALAM PERSPEKTIF ADAT BADUY

Penulis: Yustinus Agus
Jumat, 31 Juli 2026 | 11:23 WIB
Facebook
X
WhatsApp
Lainnya

3. Larangan teu meunang dirempak, buyut teu meunang dirobah : menghormati wilayah larangan dan amanat leluhur yang tidak boleh diubah.

4. Gunung kaian, gawir awian, lebak caian, datar imahan, sampalan kebonan, walungan rawatan :  menempatkan setiap bentang alam sesuai dengan fungsi ekologisnya.

5. Nu lain kudu dilainkeun, nu enya kudu dienyakeun : menegakkan kejujuran dengan membedakan yang salah dan yang benar.

6. Leuweung kolot kudu dijaga : hutan tua wajib dilestarikan.

7. Leuweung titipan teu meunang diruksak : hutan titipan leluhur tidak boleh dirusak.

8. Cai kudu dipiara : sumber air harus dipelihara sebagai penopang kehidupan.

9. Walungan kudu diriksa :sungai harus dirawat dan dijaga kelestariannya.

Seluruh pikukuh tersebut bukan hanya menjadi pedoman hidup Masyarakat Adat Baduy, tetapi juga merupakan amanat yang secara konsisten disampaikan kepada "Bapak Gede" dalam setiap pelaksanaan Seba. Amanat tersebut mengandung harapan agar setiap kebijakan pembangunan tetap menghormati keseimbangan alam, melindungi hutan, menjaga sumber-sumber air, memelihara tanah, serta menempatkan kepentingan generasi mendatang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan.

Penulis: Yustinus Agus
Jumat, 31 Juli 2026 | 11:23 WIB
Artikel Selanjutnya

Rahasia Pikukuh Suku Baduy yang Tetap Dipatuhi dari Generasi ke Generasi

Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

MEMAKNAI SEBA DALAM PERSPEKTIF ADAT BADUY

Jumat, 31 Juli 2026 | 11:23 WIB

TRADISI KAWALU SUKU BADUY

Senin, 27 Juli 2026 | 00:41 WIB
↑ Kembali ke atas
MEMAKNAI SEBA DALAM PERSPEKTIF ADAT BADUY

Bagikan artikel ini melalui