AYAH, Bolehkah Aku Membeli Waktumu?
Ayahnya dulu bekerja keras, tetapi hasilnya tak pernah cukup.
Sejak saat itu, Gibran berjanji bahwa anaknya tidak boleh merasakan hal yang sama. Ia ingin memberikan segalanya—mainan terbaik, pendidikan terbaik, dan kehidupan yang lebih layak.
Namun, tanpa disadari, ada satu hal yang perlahan ia ambil dari Raka.
Waktu.
Malam itu, hujan sudah reda. Gibran keluar dari ruang kerjanya sekitar pukul 21.30. Ia meregangkan badan, merasa sedikit lega karena pekerjaannya selesai.
“Raka?” panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Ia melangkah ke ruang tengah dan menemukan Raka tertidur di lantai, masih memeluk mobil-mobilannya. Televisi masih menyala, menampilkan kartun yang sudah lama selesai.
Gibran terdiam.
Ia mendekat, mengangkat tubuh kecil itu, dan membawanya ke kamar. Saat menyelimuti Raka, ia menatap wajah polos anaknya—tenang dan damai.
“Maaf ya, Nak…” bisiknya pelan.