AYAH, Bolehkah Aku Membeli Waktumu?
Hujan turun perlahan sore itu. Rintiknya mengetuk kaca jendela, seperti seseorang yang ingin masuk, namun ragu untuk benar-benar datang.
Di ruang kerja kecil di sudut rumah, Gibran masih menatap layar laptopnya. Jemarinya bergerak cepat, sesekali berhenti untuk mengusap kening yang mulai berkeringat.
Jam di dinding menunjukkan pukul 18.30, tetapi baginya waktu seolah tak lagi memiliki arti. Deadline, target, dan laporan berputar tanpa henti di kepalanya.
Di balik pintu, sepasang mata kecil mengintip.
“Ayah…?”
Suara itu pelan, hampir tenggelam oleh suara hujan. Namun Gibran mendengarnya. Ia menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar.
“Iya, Nak. Sebentar ya, Ayah lagi kerja,” jawabnya singkat.
Anak kecil itu tetap berdiri di sana. Raka, usia lima tahun, mengenakan kaus bergambar mobil kesayangannya, menggenggam sebuah mainan kecil di tangannya.
“Sebentar itu berapa lama, Yah?” tanyanya polos.