Jakarta - Pagi hari di Balige, 3 Juli 1920. Kabut tipis masih menggantung di atas Danau Toba ketika Manonga Napitupulu dilahirkan dari keluarga sederhana.
Ayahnya, A. Panggalak Napitupulu, seorang nelayan danau, menggantungkan hidup pada air yang tenang namun kerap tak ramah.
Dari rahim kehidupan pinggiran inilah Manonga tumbuh, tetapi kelak justru masuk ke jantung sejarah republik.
Nama Manonga bukan sembarang nama.
Ia diambil dari leluhur "Manonga Langit" setelah sang ayah meminta izin para sesepuh kampung. Sebuah isyarat bahwa bocah ini dipikul dengan harapan, meski hidup keluarga Napitupulu jauh dari berlebih.
Sejak kecil, Manonga dikenal cakap berhitung. Namun kecakapan saja tak cukup.
Ketika orang tuanya tak mampu membiayai pendidikan ke Hollandsch-Inlandsche School, jalan Manonga nyaris buntu. Nasibnya berbelok lewat rekomendasi seorang pejabat lokal, yang membukakan pintu ke Gouvernement School di Balige.
Bahasa Belanda pelan-pelan dikuasainya. Dari Schakelschool Sonakmalela hingga Kadasterschool di Bandung, Manonga menempuh pendidikan dengan satu bekal utama: ketekunan.