Workshop tersebut diikuti oleh 35 peserta yang berasal dari berbagai unsur, termasuk peneliti dari Badan Riset Inovasi Nasional Bogor, Balai Penerapan Standarisasi Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bogor, Perum Perhutani KPH Banten, CDK Wilayah I dan II Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten, pelaku usaha benih/bibit tanaman hutan, perwakilan kelompok tani hutan dari Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang, penyuluh kehutanan lingkup Provinsi Banten, serta perwakilan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) dari Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten, Dr. Wawan Gunawan, S.Sos, MSi, membuka acara workshop ini. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di Banten.
"Kerja sama yang kuat antara berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam upaya penghijauan dan rehabilitasi lahan kritis. Mutu benih yang baik merupakan fondasi dari kesuksesan program-program ini," ujar Dr. Wawan.
Para narasumber yang hadir dalam workshop ini, di antaranya Ibu Direktur Perbenihan Tanaman Hutan dari Dirjen Pengelolaan DAS Rehabilitasi Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, yang membawakan materi tentang Kebijakan Peredaran Benih Tanaman Hutan, serta Bapak Ateng Rahmat, S.Hut, yang merupakan fungsional dari Balai Penerapan Standarisasi Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPSILHK), dengan materi Standarisasi Sertifikasi Mutu Benih Tanaman Hutan.
Silvinia, SP, MM, Kasie Sertifikasi Benih pada UPTD Sertifikasi dan Perbenihan Tanaman Hutan Banten, menjelaskan bahwa sinergi antara workshop yang diadakan oleh UPTD SPTH dan kegiatan riset serta pelatihan lapangan oleh BRIN ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman peserta terkait peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang perbenihan, potensi perbenihan di masa mendatang, serta keahlian teknis dalam mutu benih tanaman hutan.
"Melalui peningkatan kompetensi ini, diharapkan sistem perbenihan di Provinsi Banten dapat berkembang lebih efisien dan efektif, sehingga mampu menyediakan benih dan bibit berkualitas tinggi yang akan mendukung kesuksesan program restorasi, rehabilitasi hutan, dan penghijauan lahan kritis di wilayah tersebut," jelas Silvinia pada keterangan tertulisnya Rabu, 21 Agustus 2024.
Selain itu, Silvinia juga menyampaikan harapannya bahwa dengan langkah-langkah strategis yang diambil melalui kerja sama ini, Provinsi Banten diharapkan dapat bertransformasi menjadi wilayah yang lebih hijau, teduh, dan berkelanjutan.
Hal ini, menurutnya, akan memberikan manfaat jangka panjang tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga bagi masyarakat setempat. "Dengan dukungan dari semua pihak, kami yakin Banten bisa menjadi contoh bagi daerah lain dalam hal keberhasilan program penghijauan dan rehabilitasi lingkungan," tutup Silvinia.