Kopi, Nadi Kehidupan Petani di Kaki Gunung Karang
PANDEGLANG - Bagi sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar kaki Gunung Karang, Pandeglang-Banten, tanaman kopi bukan hanya sekadar tumbuhan hijau yang menyejukkan. Kopi sudah seperti nadi yang tak boleh berhenti beroperasi.
Dari sinilah mereka hidup dan menghidupi.
Ada filosofi hebat yang tertanam dalam diri mereka "leuweung hejo, masyarakat ngejo" yang jika diartikan adalah hutan hijau (hutan lestari) masyarakat menanak nasi. sederhananya jika hutan lestari masyarakat bisa makan.
musabab Sebagian besar masyarakat di sini berprofesi sebagai petani yang bergantung hidup pada hasil alam.
Sebut saja Apan, salah satu petani kopi Gunung Karang yang kami temui pada 12 Mei 2024.
Darinya, kami belajar betapa kopi selalu memiliki cerita tersendiri yang tak pernah usang dan selalu menginspirasi. Warga Kelurahan Juhut-Pandeglang tersebut mengaku mencintai kopi sejak dini.
Dahulu, Apan selalu dibawa ke kebun kopi oleh kakek dan orang tuanya. Dari ketinggianlah dia belajar menanam dan merawat kopi.
Baginya, alam adalah buku yang terbuka lebar, mengajarkan bagaimana mengolah biji-biji pilihan hingga menimbulkan aroma kekhasan yang disukai banyak orang. Tidak berhenti sampai di situ, dirinya juga ikut menjajakan kopi siap saji (kopi tubruk) dengan berjualan keliling bermodalkan telapak kaki.