Mengapa AI di Kampus Tidak Harus Ditakuti, tetapi Harus Dipahami
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan teoritis. Mereka juga perlu memahami perkembangan teknologi, termasuk AI, sekaligus mengetahui keterbatasannya. Data Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2024 menunjukkan skor pilar keterampilan digital meningkat dari 56,59 pada 2023 menjadi 58,25 pada 2024. Namun, kesenjangan pemahaman AI di dunia kerja masih terlihat. Microsoft mencatat bahwa 87 persen pemimpin di Indonesia telah memahami AI agents, sementara angka tersebut baru mencapai 56 persen di kalangan karyawan. Karena itu, kemampuan menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari proses mempersiapkan mahasiswa menghadapi lingkungan kerja yang semakin terdigitalisasi.
Menururt saya kampus tidak cukup hanya melarang mahasiswa menggunakan AI. Pendekatan yang lebih relevan adalah memberikan pemahaman mengenai penggunaan AI yang bertanggung jawab. Mahasiswa perlu diajarkan cara memanfaatkan AI sebagai learning assistant, bukan sebagai mesin pembuat tugas.
Dosen juga dapat merancang tugas yang mendorong mahasiswa menunjukkan proses berpikirnya. Misalnya, mahasiswa tidak hanya diminta mengumpulkan esai, tetapi juga menjelaskan sumber yang digunakan, alasan memilih suatu argumen, atau mempresentasikan hasil pemikirannya. Dengan demikian, penggunaan AI tidak otomatis menghilangkan proses belajar.
Di sisi mahasiswa, prinsip sederhana yang dapat diterapkan adalah: gunakan AI untuk membantu berpikir, bukan menggantikan pikiran. Setiap informasi dari AI tetap perlu diperiksa karena AI dapat memberikan jawaban yang keliru atau kurang sesuai konteks. Mahasiswa tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap hasil akhir pekerjaannya.
Kehadiran AI di dunia pendidikan merupakan bagian dari perubahan zaman yang sulit dihindari. Menolak teknologi sepenuhnya bukan solusi, tetapi menerima AI tanpa batas juga bukan pilihan yang bijaksana. Tantangan sebenarnya bukan apakah mahasiswa menggunakan AI atau tidak, melainkan apakah mereka masih mampu berpikir ketika AI berada di samping mereka.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya membuat manusia semakin mampu, bukan semakin bergantung. Kampus memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya penggunaan AI yang etis, sementara mahasiswa harus tetap mempertahankan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, dan kejujuran akademik. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan tugas yang selesai, tetapi membentuk manusia yang mampu memahami persoalan dan menemukan jawabannya dengan pikirannya sendiri.
Tulisan ini merupakan opini pengguna. Pandangan yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi Distrik Banten News. Status Kontributor tidak menunjukkan keanggotaan Redaksi maupun kewenangan untuk mewakili Distrik Banten News.