Perkiraan orang lebih ditakuti karena bisa menjadi kenyataan dengan sendirinya. Kalau pekerja, pedagang, dan investor yakin harga akan terus naik, mereka menaikkan upah dan harga lebih cepat. Inflasi pun makin sulit turun meski suku bunga dinaikkan. Menjaga kepercayaan publik sama pentingnya dengan menaikkan suku bunga. Begitu ekspektasi lepas, biaya untuk mengendalikannya jauh lebih besar.
Kenapa Rupiah Digital Bisa Mengancam Bank yang Kita Kenal?
Rupiah Digital bisa mengancam bank jika dana deposito berpindah besar-besaran ke uang digital bank sentral. Bank Indonesia tengah menyiapkan Rupiah Digital, yang sudah memasuki tahap eksperimen untuk transaksi lintas negara dan telah mendapat fatwa halal dari Dewan Syariah Nasional. Uang digital bisa membuat bantuan pemerintah lebih cepat dan murah. Tapi ada risiko: orang bisa menarik dana dari bank dan beralih ke uang digital. Jika terjadi besar-besaran, bank bisa kesulitan menyalurkan kredit. Inilah kenapa inovasi uang harus diiringi pengawasan yang hati-hati.
Jadi, Siapa yang Paling Terdampak?
Yang paling terdampak adalah rumah tangga ber-KPR, pembeli rumah pertama, pekerja berpenghasilan tetap, dan pelaku usaha kecil. Ekonomi moneter kembali jadi sorotan karena kebijakan bank sentral kini menyentuh hal paling sehari-hari: harga barang, cicilan KPR, harga rumah, tabungan, dan bentuk uang yang dipakai masyarakat. Di Indonesia, penurunan suku bunga acuan, tekanan inflasi, naiknya harga properti residensial, dan persiapan Rupiah Digital membuat isu ini bukan lagi milik ekonom saja. Menurut data Bank Indonesia, jumlah uang beredar luas (M2) terus tumbuh dalam jangka panjang, dari Rp844.053 miliar pada 2001 menjadi Rp6.900.049 miliar pada 2020 dalam satu studi berbasis data BI/BPS. Bank sentral juga tidak bisa bekerja sendiri: ia perlu koordinasi dengan pemerintah, menjaga kepercayaan publik, dan mengawasi stabilitas keuangan.
Apa yang Harus Kita Lakukan Sekarang?
Yang bisa dilakukan sekarang adalah menghitung ulang cicilan dengan skenario bunga naik, terutama bagi keluarga yang punya utang rumah. Bagi publik, implikasinya praktis: pantau suku bunga, inflasi, dan harga rumah sebelum mengambil utang. Bagi pembuat kebijakan, tantangannya adalah menekan inflasi tanpa membuat cicilan makin berat, daya beli turun, atau sistem keuangan goyah. Masa depan uang dan ekonomi ditentukan bukan hanya oleh target inflasi, tetapi juga oleh cara negara mengelola utang, pasokan global, teknologi pembayaran, dan kepercayaan masyarakat.
Bank sentral tidak lagi hanya mengatur suku bunga. Ia ikut menentukan ketersediaan dana di pasar, ketahanan bank, arah harga aset, dan bentuk uang yang akan dipakai sehari-hari.