“Pembelaan terhadap korban perundungan siber adalah dengan tidak diam, ikut melaporkan, mendengar dan mendukung korban, menemani korban dalam melapor serta mengamankan barang bukti,” jelas Akhsan.
Sementara itu, Ketua Relawan TIK Provinsi Banten Ahmad Taufiq Jamaludin memperkenalkan empat pilar literasi digital, yakni Cakap Digital, Aman Digital, Budaya Digital dan Etika Digital atau disingkat “CABE”.
Adapun Gilang Tresna Putra Anugrah dari IMF mengajak siswa dan guru lebih bijak menggunakan media sosial serta AI.
Ia menekankan pentingnya berpikir sebelum mengunggah konten dan melakukan verifikasi sebelum membagikan informasi.
“Saring sebelum sharing konten atau informasi sehingga meminimalisir potensi penyebaran hoaks. AI juga harus digunakan secara etis dan tetap memperhatikan hak kekayaan intelektual,” kata Gilang.
Kegiatan ditutup dengan diskusi kelompok antara siswa dan guru. Peserta membahas mitigasi penyalahgunaan teknologi, khususnya cyberbullying, sekaligus menyusun rencana aksi literasi digital di lingkungan sekolah.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan, Eka Andrias, turut mendukung kegiatan tersebut.
“Mudah-mudahan edukasi literasi digital seperti ini bisa diselenggarakan di seluruh SMP di Kota Tangerang Selatan,” ungkap Eka.