AirNav Indonesia memastikan pemantauan terhadap kondisi udara terus dilakukan secara intensif. Koordinasi dengan berbagai pihak terkait juga diperkuat agar setiap perkembangan dapat segera disampaikan kepada maskapai, pengelola bandara, serta pihak-pihak yang berkepentingan dalam pelayanan penerbangan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan penerbangan di tengah aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berdampak hingga ke sejumlah wilayah.
Abu vulkanik merupakan salah satu ancaman serius bagi dunia penerbangan. Karena itu, setiap perubahan kondisi ruang udara harus direspons secara cepat melalui pengaturan lalu lintas udara dan pembaruan informasi penerbangan.
AirNav menegaskan, pelayanan navigasi penerbangan akan terus disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan. Perkembangan sebaran abu vulkanik menjadi salah satu faktor utama yang terus dipantau sebelum keputusan pembukaan kembali ruang udara dan operasional bandara dilakukan.
Informasi terkait kondisi ruang udara dan status operasional penerbangan disampaikan melalui mekanisme informasi aeronautika, termasuk melalui penerbitan serta pembaruan NOTAM.
Masyarakat dan calon penumpang pun diimbau untuk terus memantau perkembangan terbaru serta melakukan pengecekan status penerbangan kepada maskapai masing-masing sebelum melakukan perjalanan menuju bandara.
Hingga saat ini, otoritas penerbangan masih terus melakukan pemantauan terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Keputusan pembukaan kembali operasional ketiga bandara akan bergantung pada kondisi ruang udara dan hasil pemantauan terhadap sebaran abu vulkanik.
Keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Otoritas penerbangan memastikan setiap keputusan yang diambil akan mempertimbangkan kondisi aktual demi menjamin keamanan seluruh aktivitas penerbangan.