Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan sektor kesehatan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan rumah sakit, puskesmas, dokter, maupun peralatan medis. Infrastruktur transportasi dan kecepatan evakuasi juga menjadi bagian penting dalam menyelamatkan pasien, terutama mereka yang berada di wilayah terluar, terpencil, dan tertinggal.
Karena itu, pemerintah melihat ambulans udara sebagai salah satu solusi untuk memangkas waktu tempuh ketika kendaraan darat tidak memungkinkan digunakan.
Bukan hanya ambulans udara, pemerintah juga membuka konsep tim dokter terbang. Dengan konsep ini, tenaga medis dapat diterbangkan langsung menuju lokasi warga yang membutuhkan pertolongan, terutama dalam kondisi kritis atau ketika akses menuju fasilitas kesehatan terhambat.
“Kalau perlu dokter yang terbang ke tempat rakyat sakit keras atau menghadapi bencana,” tegas Prabowo.
Konsep tersebut diharapkan dapat mempercepat respons medis sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan akses kesehatan karena kondisi geografis.
Rencana ambulans udara juga menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk memperkuat pelayanan kesehatan dasar. Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menyampaikan rencana renovasi 10.000 puskesmas yang tersebar di 7.285 kecamatan. Setiap puskesmas disebut akan memperoleh anggaran perbaikan sekitar Rp4 miliar, dengan perhatian lebih besar bagi wilayah yang tergolong terpencil, terluar, dan tertinggal.
Jika seluruh program tersebut berjalan sesuai rencana, pemerintah ingin membangun sistem pelayanan kesehatan yang tidak hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga mampu bergerak mendatangi masyarakat.
Bagi warga di perkotaan, perjalanan menuju rumah sakit mungkin hanya membutuhkan waktu puluhan menit. Namun bagi masyarakat di wilayah terpencil, kondisi geografis bisa membuat perjalanan menjadi berjam-jam bahkan lebih lama. Dalam keadaan darurat, perbedaan waktu tersebut dapat menentukan hidup dan mati seseorang.