Menjemput Fajar Abad Kedua Mathla’ul Anwar
Kita tidak boleh lagi mengelola organisasi besar ini dengan metodologi tradisional yang konvensional, melainkan harus bertransisi menuju tata kelola modern yang berbasis pada digitalisasi, transparansi, dan meritokrasi.
Proses kaderisasi formal dan informal harus didesain ulang agar mampu melahirkan kader-kader pemikir dan penggerak yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus ketajaman konseptual.
Hanya melalui pembenahan sistem perkaderan yang terukur, cita-cita luhur untuk mewujudkan Mathla’ul Anwar sebagai ormas Islam ketiga terbesar di Indonesia dapat menjadi kenyataan yang objektif.
Ikhtiar besar untuk membesarkan organisasi ini menuntut sebuah transformasi mentalitas kolektif dari seluruh pengurus dan jajaran kader di semua level (semua tingkatan).
Kita harus dengan tegas membuang jauh-jauh tabiat buruk ego sektoral yang berbunyi "ku sorangan teu bisa, ku batur ulah", sebuah penyakit mental di mana seseorang yang tidak mampu berbuat kebaikan, justru menghalangi orang lain untuk maju.
Sikap dengki dan destruktif seperti ini adalah racun yang dapat menggerogoti kohesi sosial dan merusak silaturahmi kelembagaan dari dalam. Mathla’ul Anwar adalah milik umat, sebuah ladang pengabdian yang sangat luas, sehingga setiap potensi kebaikan dari mana pun datangnya harus diakomodasi, didukung, dan diapresiasi dengan lapang dada.
Sebaliknya, mari kita gelorakan kembali prinsip hidup yang penuh kearifan dan bernada anjuran luhur, yaitu "ulah mareuman obor boga batur, caangan bae obor boga sorangan".
Falsafah ini mengajarkan kepada kita untuk tidak perlu sibuk menjatuhkan, meremehkan, atau memadamkan prestasi dan kontribusi yang telah dirintis oleh orang lain demi mengangkat diri sendiri.