Kamis, 16 Juli 2026
Login Kirim Tulisan
Konten dari Pengguna

Gerakan Cinta Al-Qur'an Warnai MATAMUDA MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur, Bangun Generasi Berkarakter dan Berakhlak Mulia

BAGIKAN:
Gerakan Cinta Al-Qur'an Warnai MATAMUDA MTs. Plus Ar-Raudhot...
0
Gerakan Cinta Al-Qur'an Warnai MATAMUDA MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur, Bangun Generasi Berkarakter dan Berakhlak Mulia
Iklan

 

Garut, 15 Juli 2026 – Suasana religius dan penuh makna terasa begitu kuat dalam rangkaian kegiatan Masa Ta'aruf Murid Baru (MATAMUDA) di MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur. Salah satu program unggulan yang menjadi perhatian utama adalah Gerakan Cinta Al-Qur'an, sebuah gerakan pembiasaan yang dirancang untuk menumbuhkan kembali kedekatan peserta didik dengan Al-Qur'an di tengah derasnya arus perkembangan teknologi digital dan perubahan gaya hidup generasi muda. Program ini tidak hanya menjadi agenda seremonial penyambutan peserta didik baru, tetapi menjadi langkah awal dalam membangun budaya madrasah yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber inspirasi, pedoman hidup, sekaligus pembentuk karakter. Melalui pembiasaan membaca, menyimak, dan mencintai Al-Qur'an, MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur berharap seluruh peserta didik mampu tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara spiritual, serta memiliki akhlak mulia yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan tersebut sekaligus menjadi wujud nyata komitmen madrasah dalam menghadirkan pendidikan yang seimbang antara penguatan ilmu pengetahuan, karakter, dan nilai-nilai keislaman.

Aris Riswandi, S.Ag selaku guru pembimbing Program Gerakan Cinta Al-Qur'an menjelaskan bahwa kondisi remaja saat ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kemajuan teknologi, kemudahan mengakses media sosial, serta derasnya arus informasi sering kali membuat perhatian peserta didik terhadap Al-Qur'an semakin berkurang. Menurutnya, fenomena tersebut tidak boleh dibiarkan menjadi kebiasaan yang pada akhirnya menjauhkan generasi muda dari pedoman hidup umat Islam. "Di era sekarang perkembangan teknologi memang memberikan banyak manfaat, tetapi di sisi lain juga membawa tantangan besar bagi dunia pendidikan Islam. Sedikit demi sedikit perhatian remaja terhadap Al-Qur'an mulai berkurang karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan berbagai bentuk hiburan digital. Oleh karena itu, kami ingin menghadirkan Gerakan Cinta Al-Qur'an sebagai upaya membangkitkan kembali rasa cinta mereka kepada kitab suci yang menjadi petunjuk kehidupan. Kami tidak menuntut semua peserta didik langsung sempurna, karena kami memahami masih ada di antara mereka yang belum lancar membaca Al-Qur'an. Justru dari sinilah kami ingin mendampingi mereka agar memiliki semangat untuk terus belajar tanpa rasa malu dan tanpa merasa tertinggal," ungkap Aris dengan penuh keyakinan di hadapan peserta didik baru.

327384.webp

Lebih lanjut, Aris menegaskan bahwa Gerakan Cinta Al-Qur'an bukan sekadar pelengkap rangkaian kegiatan MATAMUDA ataupun program yang berhenti setelah masa pengenalan lingkungan madrasah selesai. Baginya, gerakan tersebut lahir dari rasa tanggung jawab dan kasih sayang kepada generasi penerus bangsa yang kelak akan menjadi pemimpin di masa depan. Ia berharap setiap peserta didik mampu membangun hubungan yang dekat dengan Al-Qur'an sejak dini sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi pedoman dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. "Saya selalu meyakini bahwa mencintai Al-Qur'an tidak dimulai dari kemampuan membaca yang sempurna, tetapi dimulai dari kemauan untuk membuka, mengenal, dan mempelajarinya setiap hari. Selama anak-anak memiliki semangat belajar, kami sebagai guru akan terus mendampingi mereka. Gerakan ini lahir bukan karena kewajiban administratif, melainkan karena rasa sayang kami kepada anak-anak agar mereka tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Kami ingin mereka tumbuh menjadi generasi yang berakhlak, berilmu, dan memiliki pegangan hidup yang kuat melalui Al-Qur'an," tutur Aris. 

Selain pembiasaan membaca Al-Qur'an, MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur juga menghadirkan kegiatan shalat dhuha berjamaah sebagai bagian dari penguatan karakter spiritual selama MATAMUDA. Kegiatan ini dilaksanakan secara bersama-sama sebagai bentuk pembiasaan ibadah sekaligus sarana menanamkan rasa syukur kepada Allah Swt. Aris menjelaskan bahwa masih banyak pemahaman di masyarakat yang mengaitkan shalat dhuha semata-mata dengan harapan memperoleh kelancaran rezeki atau keberhasilan urusan duniawi. Menurutnya, pemahaman tersebut perlu dilengkapi agar peserta didik memahami hakikat ibadah secara lebih utuh. "Kami selalu menyampaikan kepada anak-anak bahwa shalat dhuha bukan hanya untuk mengejar urusan dunia atau berharap dimudahkan rezekinya saja. Lebih dari itu, shalat dhuha merupakan bentuk syukur atas nikmat kesehatan, kesempatan belajar, keluarga, dan kehidupan yang Allah berikan setiap hari. Ketika seseorang membiasakan diri bersyukur melalui ibadah, maka ia akan lebih mudah memiliki hati yang tenang, rendah hati, dan mampu menghargai setiap nikmat yang diterimanya. Nilai-nilai inilah yang ingin kami tanamkan kepada seluruh peserta didik sejak hari pertama mereka menjadi bagian dari keluarga besar MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur," jelasnya.

Sementara itu, Waka Kurikulum MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur, Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., Gr, menegaskan bahwa setiap program yang dirancang madrasah harus memiliki dampak nyata terhadap perkembangan karakter peserta didik. Menurutnya, keberhasilan sebuah kegiatan tidak diukur dari kemeriahan pelaksanaan ataupun banyaknya agenda yang dilakukan, melainkan dari perubahan sikap dan kebiasaan positif yang terus tumbuh setelah kegiatan berakhir. "Kami berharap seluruh program yang diberikan selama MATAMUDA tidak berhenti menjadi pengalaman sesaat. Setiap kegiatan harus memiliki makna bagi kehidupan masing-masing peserta didik sehingga mampu membentuk kebiasaan baik yang terus mereka lakukan di rumah maupun di lingkungan masyarakat. Gerakan Cinta Al-Qur'an, pembiasaan shalat dhuha, dan berbagai kegiatan karakter lainnya merupakan investasi jangka panjang dalam membangun generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Ketika nilai-nilai itu berhasil menjadi budaya hidup peserta didik, maka madrasah telah menjalankan tugas pendidikannya secara utuh," jelasnya.

Melalui Gerakan Cinta Al-Qur'an dan penguatan pembiasaan ibadah yang dilaksanakan sejak awal tahun pelajaran, MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur kembali menunjukkan komitmennya sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga berupaya membentuk pribadi muslim yang beriman, berilmu, berkarakter, serta mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial yang semakin kompleks, madrasah meyakini bahwa Al-Qur'an akan selalu menjadi cahaya yang membimbing setiap langkah peserta didik menuju masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, Gerakan Cinta Al-Qur'an diharapkan menjadi budaya yang terus hidup dalam keseharian warga madrasah, menguatkan ikatan spiritual peserta didik dengan Allah Swt., serta melahirkan generasi yang mencintai ilmu, menghormati orang tua dan guru, memiliki kepedulian sosial, serta mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan nyata di mana pun mereka berada.

 

Kontributor      : Insan Faisal Ibrahim, S.Pd

Satuan Kerja   : MIS AR-RAUDHOTUN NUR

 

Iklan
Sambut Orang Tua dan Murid dengan Hangat, Guru-Guru RA Kampanyekan Gerakan Sambut Ceria pada MATAMURA
Artikel Selanjutnya

Sambut Orang Tua dan Murid dengan Hangat, Guru-Guru RA Kampanyekan Gerakan Sambut Ceria pada MATAMURA

Artikel ini merupakan tanggung jawab kontributor dan tidak mencerminkan pandangan redaksi distrikbantennews.com.
Iklan
Iklan
Kontributor: KABAR AR-RAUDHOTUN NUR
Diterbitkan: 15 Juli 2026, 19:48 WIB · Diperbarui: 16 Juli 2026, 19:32 WIB

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini