Keluarga besar Bani Karta Wireja kembali menghidupkan tradisi sungkeman sebagai bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri 1447H. Tradisi turun-temurun ini menjadi manifestasi nilai luhur yang menjunjung tinggi penghormatan kepada orang tua serta mempererat ikatan kekeluargaan lintas generasi.
Sungkeman bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebuah ruang batin untuk menyampaikan permohonan maaf dan doa restu. Momen ini juga meneguhkan kembali nilai-nilai adab, tata krama, dan kasih sayang dalam keluarga besar.
Sejak pagi hari usai pelaksanaan salat Id, seluruh anggota keluarga berkumpul dalam satu majelis penuh kekhidmatan. Dengan busana terbaik, satu per satu anggota keluarga melakukan sungkeman kepada para sesepuh.
Tradisi sungkeman juga berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter yang penting bagi generasi muda. Ini membantu mereka memahami pentingnya nilai-nilai luhur dalam kehidupan bermasyarakat.
“Di sinilah anak-anak belajar tentang hormat, tentang merendahkan hati, dan tentang pentingnya menjaga silaturahmi,” ungkap tokoh sepuh keluarga dengan penuh haru.
Lebih dari sekadar kebiasaan, tradisi ini telah menjadi identitas kultural Bani Karta Wireja yang terus dijaga eksistensinya. Sungkeman hadir sebagai penyeimbang di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis nilai-nilai tradisional.
Tradisi ini mengingatkan pentingnya akar budaya dalam membangun jati diri keluarga. Kehangatan semakin terasa ketika seluruh keluarga kemudian saling bersalaman, berbagi cerita, dan menikmati hidangan khas lebaran bersama.
Tawa dan air mata haru berpadu, menciptakan suasana yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat makna spiritual. Dengan konsistensi pelestariannya, tradisi sungkeman Bani Kartawireja tidak hanya menjadi warisan adiluhung.
Tradisi ini juga menjadi ruh yang menghidupkan esensi sejati Idul Fitri. Esensi tersebut meliputi kembali kepada kesucian, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan nilai kemanusiaan yang luhur.
***