Gaun, rias, pelaminan, dan tepuk tangan. Semuanya hadir tanpa harga, tanpa syarat, selain satu cinta yang sudah sah.
"Bener-bener bahagia, resepsi kita kali ini didatangi banyak pejabat. Aku happy dan terima kasih atas kesempatan untuk kami pasangan Tionghoa ini," tutur Mishel.
Tahun ini, Tangerang Ngebesan membuka pintu lebih lebar. Tak hanya untuk pasangan muslim, tetapi juga bagi pasangan non-muslim.
Dari 106 pasang pengantin, 9 di antaranya berasal dari latar berbeda. Di sanalah Owen dan Michelle berdiri, sebagai bagian dari cerita tentang kota yang belajar merangkul semua.
“Fasilitasnya luar biasa. Kami merasa diperhatikan. Di hidup kami, negara hadir tanpa membedakan latar untuk bahagia bersama," katanya.
Kini, mereka tinggal di kawasan Cipondoh, menjalani hari-hari sebagai pasangan muda yang sama-sama bekerja dan saling belajar. Namun Tangerang Ngebesan akan selalu menjadi satu kenangan yang tak terganti.
Hari ketika cinta mereka dirayakan oleh banyak orang yang bahkan tak mereka kenal.
Di pelaminan rakyat itu, Owen dan Mishel belajar satu hal. Yaitu, pernikahan bukan hanya tentang dua orang.