Ikuti Kami
⚡ Web

Kepemimpinan Perempuan Esensial bagi Organisasi

Penulis
Jumat, 3 Februari 2023 | 07:21 WIB

Ratu Nisya Yulianti 

WOMEN LEADERSHIP 

DISTRIKBANTENNEWS - ESAI Laki-laki dan Perempuan memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Laki-laki lebih menggunakan norma keadilan sementara Perempuan menggunakan norma persamaan. Laki-laki juga menggunakan strategi yang lebih luas dan lebih positif. Namun, perbedaan manajemen tidak akan terlihat jika Perempuan memiliki rasa percaya diri yang tinggi.

RA Kartini merupakan teladan penting bagi perempuan Indonesia. Beliau adalah tokoh yang memperjuangkan hak-hak perempuan seperti hak untuk belajar di sekolah dan hak untuk memimpin sebuah organisasi. Dengan demikian, seorang wanita memiliki sifat demokratis dan rasa kepedulian yang tinggi sehingga sosok wanita pun berkompeten untuk menjadi pemimpin dalam sebuah organisasi.

Saat ini, peran perempuan telah bergeser menuju dimensi yang lebih luas. Kebangkitan kaum perempuan dalam era globalisasi telah membawa perubahan: perempuan bukan lagi semata-mata sebagai istri atau ibu, tetapi telah terorientasi pada kualitas eksistensinya selaku manusia. Mengapa perempuan harus tampil memimpin dan ikut dalam pengambilan kebijakan? Karena jumlah perempuan mencapai separuh penduduk dunia sehingga secara demokratis pendapat dari perempuan harus dipertimbangkan.

Kepemimpinan perempuan secara umum ada 2 (dua), yaitu: pertama kepemimpinan transformasional. Dengan penerapan kepemimpinan model ini, bawahan akan merasa dipercaya, dihargai, loyal dan tanggap kepada pimpinannya. Kepemimpinan transformasional merupakan konsep yang relevan pada situasi di mana perubahan terjadi sangat cepat dan menuntut setiap organisasi untuk dapat menyesuaikan diri. Sedangkan yang kedua kepemimpinan feminisme dapat dicirikan sebagai berikut: tak agresif, tergantung, emosional, subjektif, gampang terpengaruh, pasif, tak kompetitif, sulit memutuskan, tak mandiri, sensitif, tak berani spekulasi, kurang PD, butuh rasa aman, memperhatikan penampailan.

Menjadi seorang pemimpin disebuah organisasi tidak saja dibutuhkan bakat, tetapi juga dibutuhkan kemampuan dan keahlian yang dilatih sejak kini. Perempuan harus berjiwa pemimpin, antara lain: visioner, partisipatif, think globally, act locally, berkarakter, cerdas secara spiritual, emosional, sosial, maupun intelektual. Juga adanya passion kompetitif untuk menunjang keberhasilan sebuah organisasi.

Dalam sebuah organisasi dipandang perlu menempatkan posisi pemimpin pada kemampuannya bukan kepada jenis kelaminnya, sebabnya organisasi adalah wadah yang harus dirawat dengan segala kebutuhannya. Kebutuhan itu bersifat dinamis, seiring berjalannya waktu tantangan dan perubahan zaman akan terus berlaju.

Lantas, apa yang harus dilakukan sebagai perempuan pemimpin? Perempuan harus mampu membangun personal branding/citra diri yang positif, baik sebagai sebagai individu, ibu, mitra suami, sebagai pemimpin atau pelayan masyarakat. Perempuan harus memahami konsep diri, yaitu kesadaran, sikap, dan pemahaman.

Seorang perempuan pemimpin harus memiliki sikap asertif, yaitu penuh percaya diri, mempunyai keyakinan yang kuat akan tindakannya dan mampu menyatakan perasaan dan pendapatnya, tanpa menyakiti perasaan diri-sendiri atau perasaan orang lain, tanpa mengganggu hak orang lain. Bagaimana menjadi perempuan pemimpin yang asertif? Di sini tentu melibatkan unsur identitas, gambaran diri, hingga harga diri.

Penulis
Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

Kepemimpinan Perempuan Esensial bagi Organisasi

Jumat, 3 Februari 2023 | 07:21 WIB
↑ Kembali ke atas