Kepemimpinan Perempuan Esensial bagi Organisasi
Ratu Nisya Yulianti
WOMEN LEADERSHIP
RA Kartini merupakan teladan penting bagi
perempuan Indonesia. Beliau adalah tokoh yang memperjuangkan hak-hak perempuan
seperti hak untuk belajar di sekolah dan hak untuk memimpin sebuah organisasi.
Dengan demikian, seorang wanita memiliki sifat demokratis dan rasa kepedulian
yang tinggi sehingga sosok wanita pun berkompeten untuk menjadi pemimpin dalam
sebuah organisasi.
Saat ini, peran perempuan telah bergeser menuju
dimensi yang lebih luas. Kebangkitan kaum perempuan dalam era globalisasi telah
membawa perubahan: perempuan bukan lagi semata-mata sebagai istri atau ibu,
tetapi telah terorientasi pada kualitas eksistensinya selaku manusia. Mengapa
perempuan harus tampil memimpin dan ikut dalam pengambilan kebijakan? Karena
jumlah perempuan mencapai separuh penduduk dunia sehingga secara demokratis
pendapat dari perempuan harus dipertimbangkan.
Kepemimpinan perempuan secara umum ada 2
(dua), yaitu: pertama kepemimpinan transformasional. Dengan penerapan
kepemimpinan model ini, bawahan akan merasa dipercaya, dihargai, loyal dan
tanggap kepada pimpinannya. Kepemimpinan transformasional merupakan konsep yang
relevan pada situasi di mana perubahan terjadi sangat cepat dan menuntut setiap
organisasi untuk dapat menyesuaikan diri. Sedangkan yang kedua kepemimpinan
feminisme dapat dicirikan sebagai berikut: tak agresif, tergantung, emosional,
subjektif, gampang terpengaruh, pasif, tak kompetitif, sulit memutuskan, tak
mandiri, sensitif, tak berani spekulasi, kurang PD, butuh rasa aman,
memperhatikan penampailan.
Menjadi seorang pemimpin disebuah
organisasi tidak saja dibutuhkan bakat, tetapi juga dibutuhkan kemampuan dan
keahlian yang dilatih sejak kini. Perempuan harus berjiwa pemimpin, antara
lain: visioner, partisipatif, think globally, act locally, berkarakter,
cerdas secara spiritual, emosional, sosial, maupun intelektual. Juga adanya
passion kompetitif untuk menunjang keberhasilan sebuah organisasi.
Dalam sebuah organisasi dipandang perlu menempatkan posisi pemimpin pada kemampuannya bukan kepada jenis kelaminnya, sebabnya organisasi adalah wadah yang harus dirawat dengan segala kebutuhannya. Kebutuhan itu bersifat dinamis, seiring berjalannya waktu tantangan dan perubahan zaman akan terus berlaju.
Lantas, apa yang harus dilakukan sebagai
perempuan pemimpin? Perempuan harus mampu membangun personal branding/citra
diri yang positif, baik sebagai sebagai individu, ibu, mitra suami, sebagai
pemimpin atau pelayan masyarakat. Perempuan harus memahami konsep diri, yaitu
kesadaran, sikap, dan pemahaman.
Seorang perempuan pemimpin harus memiliki
sikap asertif, yaitu penuh percaya diri, mempunyai keyakinan yang kuat akan
tindakannya dan mampu menyatakan perasaan dan pendapatnya, tanpa menyakiti
perasaan diri-sendiri atau perasaan orang lain, tanpa mengganggu hak orang
lain. Bagaimana menjadi perempuan pemimpin yang asertif? Di sini tentu
melibatkan unsur identitas, gambaran diri, hingga harga diri.