Garut, 11 Juli 2026 – Dalam rangka menyambut Tahun Pelajaran 2026/2027, MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur menggelar Workshop Peningkatan Mutu Guru dan Implementasi Kurikulum Merdeka dengan Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai langkah strategis untuk mempersiapkan tenaga pendidik menghadapi tantangan pendidikan di era digital. Kegiatan yang diikuti seluruh guru tersebut dipandu langsung oleh Fasilitator Daerah Kabupaten Garut, Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., Gr. Workshop tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga diskusi, refleksi, serta berbagi pengalaman mengajar sebagai upaya menyamakan persepsi dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas dan berpusat pada peserta didik.
Dalam pemaparannya, Insan Faisal Ibrahim menegaskan bahwa guru masa kini harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, terutama perkembangan teknologi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari peserta didik. Menurutnya, keberadaan gawai tidak dapat dipisahkan dari aktivitas anak-anak sehingga guru dituntut untuk mampu memanfaatkannya sebagai media pembelajaran, bukan justru menganggapnya sebagai ancaman. "Hari ini kita tidak bisa lagi memisahkan kehidupan peserta didik dari perkembangan teknologi. Gawai bukanlah musuh yang harus ditakuti, tetapi media yang dapat membantu proses pembelajaran menjadi lebih menarik, kreatif, dan bermakna. Yang harus kita lakukan adalah mengendalikan penggunaannya melalui pendampingan dan pengawasan, bukan hanya oleh guru, tetapi juga oleh orang tua serta lingkungan sekitar," ujar Insan di hadapan peserta workshop.

Insan menjelaskan bahwa keberhasilan pendidikan di era digital tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada madrasah. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara guru, orang tua, dan masyarakat agar peserta didik memperoleh pembinaan yang berkelanjutan, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Oleh karena itu, komunikasi yang intensif antara semua pihak menjadi salah satu kunci keberhasilan pembelajaran. Lebih lanjut, Insan menekankan bahwa paradigma hubungan antara guru dan orang tua juga harus berubah. Menurutnya, istilah "bekerja sama" saja tidak lagi cukup untuk menjawab kompleksitas tantangan pendidikan saat ini. Sebab yang dibutuhkan adalah kolaborasi yang dibangun atas dasar kesamaan visi dalam mendidik anak. "Di era sekarang, guru tidak boleh hanya bekerja sama dengan orang tua, tetapi harus berkolaborasi. Kolaborasi berarti memiliki tujuan yang sama, saling mendukung, saling mengingatkan, dan bersama-sama mendampingi tumbuh kembang peserta didik. Ketika guru dan orang tua berjalan searah, maka tujuan pembelajaran akan jauh lebih mudah tercapai," tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Insan juga memberikan pemahaman mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang saat ini menjadi pendekatan dalam pendidikan madrasah. Ia meluruskan anggapan bahwa KBC merupakan kurikulum baru. Menurutnya, KBC bukanlah pengganti Kurikulum Merdeka, melainkan pendekatan pembelajaran yang memperkuat nilai-nilai kasih sayang, penghormatan, kepedulian, dan pembentukan karakter dalam proses pendidikan. "Kurikulum Berbasis Cinta bukanlah perubahan kurikulum. KBC adalah pendekatan yang menjadi ciri khas pendidikan madrasah. Pendekatan ini mengajarkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari bagaimana guru mampu menghadirkan kasih sayang, rasa hormat, empati, dan keteladanan dalam setiap proses pembelajaran," jelasnya.
Suasana workshop berlangsung dinamis karena peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi dalam pembelajaran. Para guru saling berbagi pengalaman, strategi mengajar, hingga solusi menghadapi tantangan karakter peserta didik di era digital. Melalui forum tersebut, diharapkan lahir berbagai praktik baik (best practice) yang dapat diterapkan pada tahun pelajaran baru.
Kepala MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur, Ika Novika Rahmawatu, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop tersebut. Menurutnya, peningkatan kompetensi guru merupakan investasi penting bagi kemajuan madrasah karena kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas pendidiknya. "Terus belajar dan meningkatkan kualitas bukanlah sesuatu yang sulit selama ada kemauan dari dalam diri setiap guru. Dunia pendidikan terus berkembang, sehingga guru pun harus terus mengembangkan kompetensinya agar mampu memberikan layanan pendidikan terbaik bagi peserta didik," ungkap Ika.
Ika juga menegaskan bahwa madrasah harus mampu menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Baginya, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari tumbuhnya rasa aman dan bahagia peserta didik selama berada di lingkungan madrasah. "Madrasah harus benar-benar mengutamakan kenyamanan dan keamanan bagi setiap peserta didik. Jadikan madrasah sebagai rumah yang nyaman dan jadikan guru sebagai orang tua yang memberikan rasa aman, kasih sayang, dan keteladanan. Ketika anak merasa dihargai dan dicintai, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan," pungkasnya.
Melalui kegiatan workshop ini, MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur menunjukkan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan kompetensi guru, implementasi Kurikulum Merdeka yang dipadukan dengan pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta, serta membangun budaya kolaborasi antara madrasah, keluarga, dan masyarakat. Dengan persiapan yang matang, madrasah optimistis mampu menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sebagai fondasi utama pendidikan.