Puasa dijalankan oleh seluruh warga Baduy yang telah dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, sebagai bentuk penyucian diri, pengendalian hawa nafsu, serta ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Memasuki masa panen, masyarakat melaksanakan Tradisi Dibuat, yaitu tradisi memanen padi.
Panen diawali dari Huma Serang (ladang padi bersama) dan selanjutnya dilaksanakan di huma milik masing-masing keluarga. Kegiatan ini berlangsung selama tiga bulan, mengikuti tingkat kematangan padi di setiap huma, serta dikerjakan secara gotong royong oleh laki-laki dan perempuan.
Setelah seluruh panen selesai, masyarakat melaksanakan Ngalaksa, yaitu tradisi membuat laksa dari tepung beras yang berasal dari hasil panen sendiri.
Tradisi ini merupakan simbol rasa syukur atas hasil pertanian sekaligus bagian dari ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta dan para leluhur.
Setelah seluruh rangkaian Bulan Kawalu berakhir, masyarakat memasuki Bulan Kapat dan melaksanakan Seba Baduy selama tiga hari yang umumnya dimulai dari tanggal 5 sampai tanggal 7 Bulan Kapat atau mereka sebut bulan Sapar.
Dalam tradisi ini, para laki-laki dewasa berjalan kaki menuju pusat pemerintahan dengan membawa oleh-oleh hasil bumi serta menyampaikan amanat masyarakat adat kepada Gede (Kepala Daerah). Seba merupakan wujud penghormatan, ketaatan, serta upaya mempererat hubungan antara masyarakat adat Baduy dengan pemerintah.
Setelah prosesi Seba selesai, kawasan Baduy kembali dibuka bagi wisatawan untuk melaksanakan Saba Budaya Baduy, sehingga masyarakat luas dapat berkunjung dan mengenal lebih dekat kehidupan, adat istiadat, budaya, serta kearifan lokal masyarakat Baduy.