Penguatan Kompetensi Guru melalui Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka dengan Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta di MTs. Plus Ar-Raudhotun Nur
Garut, 10 Jui 2026 – Dalam rangka menyambut Tahun Pelajaran Baru 2026/2027, MTs. Plus AR-RAUDHOTUN NUR menyelenggarakan Workshop Implementasi Kurikulum Merdeka dengan Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan profesionalisme guru. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen madrasah untuk mempersiapkan seluruh tenaga pendidik agar mampu menghadirkan proses pembelajaran yang adaptif, humanis, serta relevan dengan tantangan pendidikan di era digital. Workshop tersebut menghadirkan Fasilitator Daerah Kabupaten Garut, Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., Gr., sebagai narasumber utama yang memberikan penguatan mengenai implementasi Kurikulum Merdeka, penguatan karakter peserta didik, serta strategi pembelajaran yang berpusat pada murid dengan mengedepankan nilai-nilai cinta, kepedulian, dan keteladanan.
Dalam pemaparannya, Insan Faisal Ibrahim menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kualitas guru. Menurutnya, guru merupakan aktor utama yang menentukan keberhasilan proses belajar mengajar. Oleh karena itu, setiap pendidik harus memiliki kemauan untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan kompetensinya seiring dengan perkembangan zaman. Ia menjelaskan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka bukan hanya berorientasi pada penyusunan perangkat ajar atau administrasi pembelajaran, melainkan juga bagaimana guru mampu menciptakan ruang belajar yang bermakna, menyenangkan, dan membangun karakter peserta didik. Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dinilai mampu menjadi fondasi penting dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih humanis, karena pendidikan sejatinya tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian dan nilai-nilai kehidupan.
Di tengah penyampaian materi, Insan memberikan penekanan khusus mengenai filosofi dasar seorang pendidik. Ia menyampaikan bahwa seorang guru hendaknya mendahulukan memberikan kesan yang baik sebelum memberikan pesan yang baik. Menurutnya, pesan yang disampaikan guru akan lebih mudah diterima apabila diawali dengan keteladanan, sikap yang santun, perhatian, dan hubungan emosional yang positif dengan peserta didik. "Kesan yang baik akan selalu menjadi pengingat dan diingat oleh murid sampai kapan pun. Sebelum murid mengingat pelajaran yang kita ajarkan, mereka terlebih dahulu akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka," ungkapnya. Pernyataan tersebut mendapat perhatian serius dari seluruh peserta workshop karena dinilai menjadi refleksi penting bahwa keberhasilan seorang guru bukan hanya diukur dari kemampuan menyampaikan materi, tetapi juga dari kemampuannya meninggalkan jejak keteladanan dalam kehidupan peserta didik.
Lebih lanjut, Insan juga mengingatkan bahwa dunia pendidikan saat ini berada pada era yang penuh dengan perubahan. Kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, serta transformasi digital telah mengubah cara peserta didik memperoleh informasi dan belajar. Kondisi tersebut menuntut guru untuk terus meningkatkan kualitas diri agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Guru dituntut tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi sebagai media pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan efektif. Menurutnya, kualitas guru harus tumbuh seiring dengan perkembangan teknologi agar madrasah mampu mencetak generasi yang memiliki kompetensi akademik, karakter yang kuat, serta kecakapan abad ke-21. Karena itu, kegiatan workshop seperti ini menjadi investasi penting bagi peningkatan mutu guru sekaligus menjadi langkah nyata MTs. Plus AR-RAUDHOTUN NUR dalam membangun budaya belajar sepanjang hayat di lingkungan madrasah.
Suasana workshop berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Salah satu guru, Tri Sinta Aprilia, S.S., mengajukan pertanyaan mengenai berbagai persiapan pelaksanaan Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) yang pada tahun ini menjadi pengganti istilah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di lingkungan madrasah. Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber menjelaskan bahwa perubahan istilah bukan sekadar pergantian nama, tetapi juga merupakan perubahan paradigma dalam menyambut peserta didik baru. MATAMUDA diharapkan menjadi ruang pembentukan karakter, pengenalan budaya madrasah, penumbuhan semangat belajar, serta penanaman nilai-nilai moderasi, cinta terhadap lingkungan, dan akhlakul karimah sejak hari pertama peserta didik memasuki madrasah. Guru diharapkan mampu menghadirkan kegiatan yang edukatif, menyenangkan, bebas dari perundungan, serta menciptakan pengalaman pertama yang berkesan bagi setiap peserta didik baru.
Melalui penyelenggaraan workshop ini, MTs. Plus AR-RAUDHOTUN NUR menunjukkan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. Persiapan Tahun Pelajaran Baru tidak hanya difokuskan pada aspek administratif, tetapi juga pada penguatan kompetensi guru sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan. Dengan semangat kolaborasi, pembelajaran yang berpusat pada murid, serta implementasi Kurikulum Merdeka melalui Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta, diharapkan seluruh guru mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih inspiratif, adaptif, dan bermakna. Madrasah optimistis bahwa langkah-langkah strategis ini akan melahirkan lingkungan belajar yang berkualitas sekaligus membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan sesuai dengan nilai-nilai Islam dan perkembangan zaman.