Ikuti Kami
Jumat, 3 Juli 2026 Versi Web

Prestasi Diakui, Kesejahteraan Diabaikan: Nasib Guru Berprestasi di Negeri Sendiri

Kontributor: Insan Faisal Ibrahim
Jumat, 8 Mei 2026 | 05:53 WIB
Facebook
X
WhatsApp
Lainnya

Guru merupakan ujung tombak dalam menciptakan generasi bangsa yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman. Di balik kemajuan pendidikan yang sering dibanggakan, ada sosok-sosok guru yang bekerja dalam diam, berjuang tanpa banyak sorotan, bahkan sering kali mengorbankan kenyamanan hidupnya demi masa depan peserta didik. Ironisnya, tidak sedikit guru berprestasi yang justru hidup jauh dari kata sejahtera. Mereka mampu mengharumkan nama sekolah, daerah, bahkan bangsa melalui dedikasi dan prestasinya, tetapi belum mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah, khususnya dalam hal pengangkatan sebagai ASN maupun PPPK.

Fenomena ini menjadi luka yang terus dirasakan oleh banyak tenaga pendidik di Indonesia. Banyak guru honorer yang telah mengabdi belasan hingga puluhan tahun, memiliki segudang prestasi, aktif membina siswa hingga menorehkan pencapaian di tingkat daerah maupun nasional, tetapi tetap berada dalam ketidakpastian status kerja. Mereka masih harus menghadapi persoalan gaji yang minim, jaminan masa depan yang tidak jelas, serta beban kerja yang sama bahkan lebih besar dibandingkan guru yang telah berstatus ASN.

Persoalan ini bukan tentang meminta belas kasihan, melainkan tentang keadilan dan penghargaan terhadap dedikasi nyata. Guru berprestasi tidak sedang menuntut kemewahan, mereka hanya berharap negara hadir dengan ukuran tangan yang adil dan respon yang cepat terhadap pengabdian yang telah mereka berikan. Ketika seorang guru mampu membawa nama baik bangsa melalui pendidikan, semestinya ada penghargaan konkret yang menunjukkan bahwa negara tidak menutup mata terhadap perjuangan tersebut.

Salah satu hal yang sering menjadi sorotan adalah sistem seleksi ASN dan PPPK yang masih mengandalkan tes kemampuan secara umum tanpa mempertimbangkan secara serius rekam jejak prestasi dan dedikasi lapangan. Tentu, tes kompetensi memiliki tujuan untuk menjaga kualitas, namun bagi guru-guru yang telah membuktikan kualitasnya melalui karya nyata, prestasi siswa, inovasi pembelajaran, hingga pengabdian bertahun-tahun, seharusnya ada jalur afirmasi yang lebih manusiawi dan proporsional.

Guru berprestasi seharusnya tidak diposisikan sama dengan pelamar umum yang baru memasuki dunia pendidikan. Mereka telah melewati ujian sesungguhnya di lapangan: menghadapi keterbatasan fasilitas, membimbing siswa dengan penuh kesabaran, menciptakan inovasi pembelajaran, bahkan menjadi penyelamat bagi banyak anak yang hampir kehilangan masa depan. Bukti kerja mereka bukan sekadar nilai di atas kertas, tetapi jejak nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat dan dunia pendidikan.

Pemerintah seharusnya mampu melihat bahwa penghargaan terhadap guru berprestasi bukan sekadar simbol atau piagam penghormatan saat peringatan Hari Guru Nasional. Penghargaan yang sesungguhnya adalah keberpihakan kebijakan. Memberikan akses prioritas dalam pengangkatan ASN atau PPPK merupakan bentuk penghormatan yang jauh lebih bermakna daripada sekadar seremoni tahunan yang penuh kata-kata manis namun minim tindak lanjut.

Namun kenyataan di lapangan juga menunjukkan sisi lain yang tak bisa diabaikan. Masih ada oknum guru yang telah mendapatkan kesejahteraan melalui status ASN maupun PPPK, tetapi tidak menunjukkan dedikasi dan tanggung jawab yang sebanding. Ada yang mengajar sekadarnya, kehilangan semangat inovasi, bahkan menjadikan status kepegawaian sebagai zona nyaman tanpa dorongan untuk terus berkembang. Hal ini tentu menjadi ironi tersendiri ketika di sisi lain, guru honorer berprestasi justru bekerja jauh lebih maksimal dengan penghargaan yang sangat terbatas.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas sistem penilaian dan pengangkatan tenaga pendidik. Jika kesejahteraan diberikan tanpa evaluasi berkelanjutan terhadap kinerja, maka akan muncul ketimpangan moral dalam dunia pendidikan. Guru yang benar-benar berjuang merasa tidak dihargai, sementara yang kurang berdedikasi justru menikmati hasil yang lebih besar. Ini bukan persoalan iri, melainkan persoalan keadilan profesional.

Sudah saatnya pemerintah membangun sistem yang lebih objektif dan berpihak pada kualitas nyata. Penilaian terhadap guru tidak hanya berfokus pada hasil tes administratif, tetapi juga rekam jejak pengabdian, kontribusi terhadap sekolah, prestasi siswa binaan, inovasi pembelajaran, hingga pengaruh positif yang diberikan kepada lingkungan pendidikan. Guru berprestasi harus mendapat tempat istimewa dalam kebijakan, bukan sekadar menjadi alat pencitraan saat dibutuhkan.

Pendidikan tidak akan maju jika para pejuangnya terus dibiarkan berjuang sendirian. Negara harus hadir bukan hanya sebagai pengatur sistem, tetapi juga sebagai pelindung dan penghargaan atas dedikasi. Mengangkat guru berprestasi menjadi ASN atau PPPK bukanlah bentuk hadiah, melainkan pengakuan atas kontribusi yang telah mereka berikan kepada bangsa.

Jika bangsa ini benar-benar ingin menciptakan generasi emas, maka kesejahteraan guru tidak boleh hanya menjadi slogan. Tidak cukup hanya dengan ucapan “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa,” jika pada saat yang sama, para guru berprestasi justru harus terus bertahan dalam ketidakpastian hidup. Pahlawan pendidikan tidak membutuhkan pujian berlebihan, mereka hanya membutuhkan keadilan yang nyata. Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan suatu bangsa sangat bergantung pada bagaimana bangsa itu memperlakukan gurunya. Jika guru yang berprestasi terus diabaikan, maka yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nasib seorang pendidik, tetapi masa depan seluruh generasi penerus bangsa.

Kontributor: Insan Faisal Ibrahim
Jumat, 8 Mei 2026 | 05:53 WIB
Artikel ini merupakan tanggung jawab kontributor dan tidak mencerminkan pandangan redaksi Distrik Banten News - Berita Banten Terkini, Terlengkap dan Terbaru Hari Ini.
Artikel Selanjutnya

Menebar Petunjuk dan Semangat, Kehadiran Kasi Penmad Garut di MI Al-Hidayah Jadi Bukti Nyata Perhatian untuk Madrasah Swasta

Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

Pendidikan Itu Mahal, yang Murah Hanya Gaji Gurunya

Selasa, 12 Mei 2026 | 09:02 WIB

ChatGPT dan Masa Depan Dunia Pendidikan

Minggu, 10 Mei 2026 | 08:12 WIB
↑ Kembali ke atas
Prestasi Diakui, Kesejahteraan Diabaikan: Nasib Guru Berprestasi di Negeri Sendiri

Bagikan artikel ini melalui