Tata Kelola Risiko Harus Diperkuat
Untuk menutup kesenjangan tersebut, BNPB menekankan pentingnya penguatan tata kelola risiko bencana melalui lima elemen utama. Pertama, pendekatan yang inklusif dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan. Kedua, kolaborasi lintas lembaga dan disiplin ilmu. Ketiga, penguatan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan sebagai fondasi pengambilan keputusan.
Selain itu, BNPB juga menyoroti pentingnya tata kelola yang adaptif terhadap perubahan iklim serta berorientasi pada pengurangan risiko sistemik guna mencegah kegagalan layanan dasar saat bencana terjadi.
Percepatan pengembangan sistem peringatan dini multi-bahaya (multi-hazard early warning system) turut menjadi prioritas yang dinilai tidak dapat ditunda lagi.
“Kita tidak bisa mencegah terjadinya bencana. Tetapi kita dapat mencegah dampak dan eskalasinya menjadi tragedi kemanusiaan yang besar. Ini hanya dapat diwujudkan melalui tata kelola risiko yang kuat, kolaborasi yang solid, dan komitmen bersama yang berbasis ilmu pengetahuan,” pungkas Rustian. (lsi)
Sumber : Humas Umy