Nantinya, hasil penguraian sampah organik ini akan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos dan pupuk cair yang kaya nutrisi untuk menyuburkan tanaman di lingkungan sekitar.
Hohan menambahkan, pengelolaan sampah mandiri juga bertujuan membentuk budaya sadar kebersihan di tengah masyarakat, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada pihak lain.
"Ini berkonsep dari warga untuk warga. Jadi harus bisa mandiri, nanti kami akan sosialisasikan dan membuat aturan bersama pak RT dan pak RW," ujarnya.
Pada tahap awal, warga menargetkan pembuatan 40 unit komposter untuk memenuhi kebutuhan tiga RW. Setiap unit komposter dibuat dengan biaya sekitar Rp450 ribu, yang seluruhnya berasal dari swadaya masyarakat.
Selain berdampak pada kebersihan lingkungan, program ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa sampah memiliki nilai guna dan nilai ekonomi jika dikelola dengan baik.
"Jadi masayrakat juga harus sadar bahwa sampah dan limbah ini juga memiliki nilai ekonomi dan bisa membuat lingkungan sehat. Untuk komposter sendiri nanti bisa menjadi pupuk cair dan pupuk kompos," tuturnya.
Inisiatif warga Bukit Nusa Indah ini menjadi contoh nyata bahwa pengelolaan sampah berbasis komunitas dapat berjalan efektif melalui semangat gotong royong dan kepedulian bersama. ***