Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh perangkat daerah, tenaga kesehatan, dan para mitra yang telah berdedikasi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan bayi.
"Mari kita terus jaga semangat kerjasama, gotong royong dan kolaborasi antar berbagai komponen masyarakat di Kabupaten Tangerang untuk mewujudkan pelayanan kesehatan ibu dan anak yang optimal di Kabupaten Tangerang," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmidzi, menjelaskan bahwa kasus kematian ibu hamil pada 2025 paling banyak disebabkan komplikasi kehamilan berupa eklamsia yang terlambat ditangani.
"Jadi biasanya ibu hamil mengalami eklamsi, hipertensi kemudian terjadi interaksi kejang-kejang, terlambat di bawa ke rumah sakit dan akibatnya penanganannya terlambat makanya menyebabkan kematian," ungkap Hendra.
Ia berharap pertemuan tersebut dapat memberikan manfaat bagi puskesmas, klinik, bidan, praktik mandiri, rumah sakit, dan organisasi profesi agar penerapan langkah penanganan semakin tepat dan efektif.
"Ini tugas kita bersama, jangan sampai nanti kita yang menyebabkan kematian bayi atau kematian ibu karena penanganan kita yang salah. Penanganannya dan pencegahan mulai dari tingkat Puskesmas, di klinik, di bidan, praktek mandiri sampai ke rumah sakit harus benar, enggak boleh ada kematian lagi," tegasnya. ***