Hasanuddin mengungkapkan, dari total 15 rumah sakit di Kota Serang, belum semuanya ikut serta dalam program Jamkesda karena keterbatasan anggaran.
“Sebenarnya rumah sakit swasta juga sudah dilibatkan, tapi belum semuanya karena anggaran kita terbatas. Harapan kami ke depan, terutama tahun 2027, semua rumah sakit bisa ikut bekerja sama,” katanya.
Untuk tahun 2025, Pemkot Serang mengalokasikan sekitar Rp3 miliar untuk program Jamkesda, meningkat dari tahun sebelumnya.
“Anggaran tahun ini sekitar Rp3 miliar. Tahun sebelumnya lebih kecil dari itu. Idealnya kami berharap bisa sampai Rp5 miliar agar lebih banyak masyarakat yang terlayani,” terang Hasanuddin.
Ia menegaskan bahwa Jamkesda menjadi jaring pengaman penting bagi warga miskin yang belum tercover jaminan lain seperti BPJS atau program pemerintah pusat.
“Jamkesda diperuntukkan bagi masyarakat miskin yang tidak memiliki jaminan kesehatan apapun. Jadi kalau ada warga miskin yang sakit, biayanya bisa ditanggung Jamkesda,” jelasnya.
Baik pihak ARSSI maupun Pemkot Serang sepakat bahwa kunci keberhasilan Jamkesda terletak pada transparansi dan ketepatan sasaran.
“Yang penting transparan dan tepat sasaran. Jangan sampai yang mampu ikut menikmati Jamkesda, sementara yang benar-benar butuh malah tidak tertangani,” tutup dr.