“Dana Rp250 juta itu bisa digunakan untuk membantu banyak pedagang, terutama mereka yang terdampak relokasi seperti di Pasar Royal, Taman Sari, dan Pasar Depan Utama,” ujarnya.
Menariknya, meski program ini belum resmi diluncurkan, antusiasme masyarakat sudah tinggi. Sejumlah pelaku usaha dari berbagai sektor telah mendaftar, mulai dari pedagang kelapa dan pisang hingga pemilik pet shop yang usahanya sempat terganggu akibat relokasi.
“Sudah banyak yang mendaftar, meskipun programnya belum diluncurkan resmi. Kami targetkan Oktober ini bisa mulai berjalan,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, Pemkot Serang juga tengah menyiapkan tiga gelombang pelatihan kewirausahaan untuk tahun 2026. Program ini diperuntukkan bagi warga yang ingin memulai usaha baru dan membangun kemandirian ekonomi.
“Prinsipnya, pemerintah ingin masyarakat Kota Serang tidak hanya jadi tenaga kerja, tapi juga pelaku usaha yang mandiri,” tutup Wahyu.
Dengan skema bunga rendah dan tanpa agunan, program ini diharapkan menjadi angin segar bagi UMKM Kota Serang — bukti nyata bahwa pemerintah hadir bukan sekadar memberikan bantuan, tapi juga membuka jalan menuju kemandirian ekonomi masyarakat.