Selanjutnya cairan sampel dimasukkan ke dalam nyala api bersuhu tinggi, yang memecah logam menjadi atom bebeas. Ketika cahaya dari lampu dilewatkan melalui sampel yang telah teratomisasi, atom-atom logam akan menyerap sebagian energi cahaya tersebut.
Semakin banyak logam yang terkandung, semakin banyak cahaya yang diserap. Dari sini, alat AAS bisa menghitung seberapa tinggi kadar logam berbahaya dalam ikan yang kita konsumsi.
Dengan bantuan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), kita bisa mendeteksi kandungan logam berat seperti timbal dan kadmium dalam bahan pangan dengan akurat. Proses ilmiah ini mungkin terdengar rumit, tetapi dampaknya sangat nyata dalam melindungi masyarakat dari zat berbahaya yang tidak terlihat mata, namun bisa merusak tubuh secara perlahan.
Inilah alasan mengapa analisis pangan memiliki peran yang sangat penting sebagai fondasi dari keamanan konsumsi sehari-hari, mulai dari ikan segar, sayuran, hingga makanan olahan. Tanpa pengujian yang tepat, kita bisa saja mengonsumsi racun tanpa sadar, sedikit demi sedikit.
Dan mungkin, setelah membaca ini, Anda akan mulai melihat makanan sehari-hari dengan cara yang berbeda. Mungkin lebih sadar, lebih waspada, dan lebih menghargai peran ilmu di baliknya.
Penulis : Chairunisa Maharani mahasiswa Teknologi Pangan dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.