Lutfi Suwandi, Teguh Wikarsa, Yogi, dan Derry, sebagai kuartet pendiri Komunitas Isola Guitar, mempersembahkan Love Theme from The Godfather karya Nino Rota (1972) untuk memulai resital. Sebagai pembuka, mereka mengajak penonton untuk berimajinasi dalam ruang-ruang yang tenang dan penuh kedamaian.
Selanjutnya, Aynan Furqon memainkan Tic-tico No Fuba karya Zequinha de Abreu (1880) dan melanjutkan dengan memainkan karya Nining Meida berjudul Peuyeum Bandung. Mereka mengubah suasana dari yang asing menjadi lokal.
Karya ini dikenal pada tahun 90-an terutama lagu-lagu Sunda popular.
Karya-Karya Klasik yang Menghipnotis Penonton
Selanjutnya, pada pementasan ketiga, Daniel Robinsar Panjaitan mencoba untuk menampilkan karya Bach dan mengajak penonton menikmati ornamen yang adiluhung dalam sajiannya.
Begitupun ketika gitaris solo selanjutnya, Ferdi Eko Satrio dengan permainan yang lebih sulit dan mencoba untuk menghayati setiap karya tersebut. Verde Alma karya Maximo Diego Pujol (1957) dan Hymne A L’amour karya Edith Piaf/ Roland Dyens (1950).
Penonton betul-betul terdiam. Hampir semua menahan napas dan terlempar pada ruang imajinasinya masing-masing.
Ferdi kadang bermain tegas lalu masuk lagi pada suasana kelembutan. Apa lagi pada karya kedua yang sempat dipopulerkan oleh Josh Groban.
Setiap petikan nada begitu menyentuh.