JAKARTA - Batu empedu, yang terbentuk dari ketidakseimbangan substansi seperti kolesterol dan garam empedu dalam empedu, dapat diatasi dengan berbagai cara, tergantung pada kondisi dan kebutuhan individu, menurut Irsan Hasan, seorang spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi hepatologi di RS Siloam MRCCC Semanggi.
Pasien disarankan untuk mengubah pola makan mereka, menghindari makanan tinggi lemak, kolesterol, dan makanan olahan. Dalam beberapa situasi, dokter mungkin meresepkan obat untuk membantu melarutkan atau menghancurkan batu empedu, khususnya batu kolesterol yang lebih kecil.
Obat yang biasa digunakan termasuk Ursodeoxycholic acid (UDCA) dan Chenodeoxycholic acid (CDCA), meskipun proses ini mungkin memerlukan waktu yang lama dan tidak selalu berhasil.
Sebagai alternatif, terapi ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) menggunakan gelombang kejut untuk menghancurkan batu empedu menjadi fragmen yang lebih mudah dikeluarkan. Namun, metode ini biasanya hanya efektif untuk batu empedu yang lebih kecil dan tidak cocok untuk semua situasi.
Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP) telah menjadi solusi populer untuk batu empedu karena memberikan diagnosis yang lebih akurat dan minim invasif dibandingkan dengan metode bedah lainnya.
ERCP digunakan untuk menghilangkan batu empedu yang tersumbat di saluran empedu. Prosedur ini melibatkan penggunaan alat endoskopi yang dimasukkan melalui mulut hingga ke saluran empedu, diikuti oleh penanganan batu dengan teknik seperti penghancuran batu atau pengangkatan dengan alat khusus.
ERCP adalah prosedur medis yang menggabungkan teknik endoskopi dengan radiografi untuk memeriksa dan mengobati masalah pada saluran empedu, hati, dan pankreas. Meskipun penggunaan ERCP masih terbatas, prosedur ini melibatkan penggunaan endoskop fleksibel yang dimasukkan melalui mulut.
Kamera di ujung endoskop memungkinkan dokter untuk memantau saluran empedu, hati, dan pankreas.