Mengapa Gen Z Sulit Menabung? Ketika Inflasi dan Suku Bunga Memengaruhi Keputusan Keuangan
Menabung menjadi salah satu tantangan keuangan yang dihadapi Gen Z. Di tengah kebutuhan sehari-hari yang terus meningkat, menyisihkan uang untuk ditabung sering kali bukanlah hal yang mudah. Uang yang kita punya perlu digunakan untuk berbagai macam keperluan, seperti untuk membeli makanan, membayar transportasi, biaya pendidikan, pulsa dan internet, serta untuk hiburan. Akibatnya, setelah berbagai kebutuhan sudah terpenuhi, uang yang tersisa untuk ditabung semakin sedikit.
Tantangan tersebut juga muncul di tengah keseharian Gen Z yang semakin dekat dengan teknologi digital. Berbagai kebutuhan dan pembayaran kini dapat dilakukan dengan mudah melalui layanan digital dan fintech. Dalam tinjauan terhadap 42 penelitian, Majidin (2025) menunjukkan bahwa perkembangan digital dan fintech turut memengaruhi perilaku keuangan Gen Z. Kemudahan tersebut memang membuat transaksi menjadi lebih praktis, tetapi juga dapat mendorong konsumsi impulsif dan penggunaan kredit digital. Artinya, kemudahan dalam menggunakan uang tidak selalu diikuti dengan kemampuan mengelolanya secara bijak.
Namun, apakah sulitnya Gen Z menabung hanya disebabkan oleh cara mengelola keuangan? Atau ada kondisi ekonomi yang turut membuat uang semakin sulit disisihkan?
Mengapa Uang Terasa Cepat Habis?
Salah satu alasan uang terasa cepat habis adalah naiknya harga berbagai barang kebutuhan. Situasi ini berkaitan dengan inflasi, yaitu kenaikan tingkat harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Ketika harga barang kebutuhan meningkat tetapi penghasilan tidak meningkat dengan proporsi yang setara, uang yang ada harus digunakan lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan harian. Imbasnya, porsi uang yang bisa disimpan untuk tabungan menjadi semakin sedikit.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 3,28% secara tahunan (year-on-year/yoy), sementara secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,30%. Angka 3,28% tersebut merupakan inflasi umum berdasarkan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK), sehingga bukan berarti seluruh barang dan jasa mengalami kenaikan harga sebesar 3,28%.
Bagi Gen Z, kenaikan harga tersebut dapat membuat anggaran yang sebelumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan tertentu menjadi lebih terbatas. Ketika pengeluaran untuk kebutuhan utama mengambil porsi lebih besar dari pendapatan, ruang untuk menyisihkan uang pun ikut tertekan.
Apakah Hanya Inflasi yang Menekan Tabungan?
Tulisan ini merupakan opini pengguna. Pandangan yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi Distrik Banten News. Status Kontributor tidak menunjukkan keanggotaan Redaksi maupun kewenangan untuk mewakili Distrik Banten News.