Banten Diselimuti Abu Vulkanik Anak Krakatau
Kondisi ini menjadi perhatian karena abu vulkanik terdiri dari partikel-partikel halus yang dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama apabila terhirup. Masyarakat pun diimbau untuk menggunakan masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan apabila paparan abu semakin terasa.
Pemerintah Provinsi Banten juga terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berada pada status Level III atau Siaga.
Gubernur Banten Andra Soni mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Warga yang berada di wilayah terdampak diminta menggunakan pelindung pernapasan ketika beraktivitas di luar rumah.
Selain itu, masyarakat diminta untuk mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang telah dikeluarkan oleh pihak berwenang. Pengunjung, wisatawan maupun nelayan juga diingatkan agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius bahaya dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Pemerintah menegaskan bahwa informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api harus diperoleh dari sumber resmi. Masyarakat diharapkan tidak mudah mempercayai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya dirasakan masyarakat di daratan. Sebaran abu vulkanik juga menjadi perhatian serius bagi sektor penerbangan karena material abu dapat membahayakan keselamatan pesawat.
BMKG menyebutkan telah melakukan pemantauan intensif selama 24 jam terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap atmosfer, jalur penerbangan serta kondisi perairan di sekitar Selat Sunda.
Akibat perkembangan sebaran abu, sejumlah informasi keselamatan penerbangan turut diterbitkan. Operasional beberapa bandara juga sempat mengalami penyesuaian sesuai kondisi dan arah pergerakan abu vulkanik. Kondisi tersebut dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik dan hasil pemantauan terbaru.