Andra Soni Pantau Anak Krakatau, Warga Diminta Waspada
Namun, kondisi tersebut bukan berarti ancaman erupsi telah sepenuhnya berakhir. Potensi terjadinya erupsi masih tetap ada sehingga pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau dilakukan selama 24 jam.
Rita menjelaskan, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah arah pergerakan abu vulkanik. Sebaran abu sangat dipengaruhi kondisi angin sehingga arahnya dapat berubah dari waktu ke waktu.
Berdasarkan hasil pemantauan pada 6 September 2026, sebaran abu vulkanik bergerak ke arah barat, menuju kawasan Selat Sunda dan Samudra Indonesia.
“Arah abu ini akan sangat tergantung kepada arah angin, jadi bisa berubah-ubah setiap hari,” ujar Rita.
Untuk mengetahui pergerakan abu secara lebih akurat, PVMBG terus memantau arah angin dan sebaran material vulkanik melalui sejumlah stasiun pengamatan. Pemantauan juga dilakukan dengan berkoordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta memanfaatkan data dari stasiun pengamatan di Australia.
Data tersebut menjadi bagian penting dalam upaya mitigasi, terutama karena sebaran abu vulkanik berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan apabila bergerak menuju jalur penerbangan.
Rita juga mengingatkan masyarakat bahwa aktivitas gunung api tidak selalu dapat dilihat secara langsung dengan mata. Karena itu, perubahan kondisi gunung tidak semata-mata dinilai berdasarkan besar atau kecilnya erupsi yang terlihat.
Penentuan status dan rekomendasi keselamatan juga mempertimbangkan data kegempaan, aktivitas vulkanik, kondisi gunung, serta potensi ancaman yang dapat ditimbulkan terhadap masyarakat.