Dari Lari Subuh hingga Jadi Ormas, Dahnil Bongkar Filosofi Matahari Pagi Indonesia
SERANG – Matahari Pagi Indonesia (MPI) ternyata memiliki cerita unik di balik proses kelahirannya. Organisasi yang kini berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan (ormas) sosial kebudayaan tersebut berawal dari kebiasaan sejumlah tokoh melakukan pertemuan pada pagi hari setelah menjalani aktivitas lari subuh.
Salah satu pendiri MPI, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan perjalanan awal terbentuknya gerakan tersebut saat menghadiri pelantikan Pengurus Wilayah (PW) MPI Banten di Kota Serang, Sabtu (8/8/2026).
Dahnil yang kini menjabat Ketua Majelis Pertimbangan Pengurus Pusat MPI menuturkan, pada awal pembentukannya, MPI merupakan sebuah gerakan politik yang secara khusus memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto dalam kontestasi politik.
"Ketika diinisiasi, itu memang gerakan politik. Gerakan politik untuk Presiden Prabowo Subianto," kata Dahnil.
Menurut Dahnil, gagasan pembentukan MPI tidak muncul secara tiba-tiba. Gerakan tersebut dirintis oleh empat tokoh, yakni dirinya bersama Agus Andrianto, Prof. Reda Manthovani, dan Yusuf Hamka atau yang akrab disapa Babah Alun.
Nama "Matahari Pagi" kemudian dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan kebiasaan para penggagasnya yang kerap melakukan pertemuan pada pagi hari.
Dahnil mengungkapkan, hampir seluruh pertemuan para pendiri dilakukan setelah aktivitas lari subuh. Tidak ada pertemuan yang digelar pada tengah malam atau dini hari.
"Tidak pernah ada pertemuan yang dilakukan dini hari atau tengah malam. Akhirnya disepakati, timbang bingung-bingung, mudah nyebutnya, kami sepakat gerakan kita namanya Gerakan Matahari Pagi," ujarnya.