Ikuti Kami
Jumat, 7 Agustus 2026 Versi Web

Harga Beras Fortifikasi Disorot, Pemerintah Telusuri Dugaan Permainan Label dan Mutu

Penulis: Yustinus Agus
Jumat, 7 Agustus 2026 | 02:53 WIB
Facebook
X
WhatsApp
Lainnya

NASIONAL - Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mulai menyelidiki penyebab harga beras fortifikasi yang dijual jauh lebih mahal dibandingkan beras medium maupun premium di pasaran. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat tidak dirugikan oleh praktik penetapan harga yang tidak sebanding dengan kualitas maupun manfaat gizi yang ditawarkan.

Penyelidikan ini dilakukan menyusul munculnya berbagai temuan mengenai beras fortifikasi yang dipasarkan dengan harga tinggi, bahkan mencapai puluhan ribu rupiah per kilogram. Pemerintah menegaskan bahwa penambahan vitamin dan mineral pada beras tidak boleh dijadikan alasan untuk menaikkan harga secara berlebihan tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Badan Pangan Nasional, Brigjen Pol. Hermawan, mengatakan pihaknya akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap produk-produk beras fortifikasi yang beredar di pasaran. Pemeriksaan tersebut tidak hanya menyasar kandungan vitamin dan mineral, tetapi juga mutu fisik beras, berat bersih, legalitas produk, proses produksi, hingga kebenaran informasi yang dicantumkan pada label kemasan.

Menurutnya, setiap produk yang dijual dengan harga lebih tinggi harus mampu membuktikan bahwa nilai tambah yang diberikan memang sesuai dengan harga yang dibayarkan konsumen. Oleh karena itu, pemerintah akan membandingkan harga beras fortifikasi dengan harga beras medium dan premium untuk mengetahui apakah selisih harga tersebut masih berada dalam batas kewajaran.

Bapanas juga akan menelusuri komponen pembentuk harga, mulai dari biaya bahan baku, penggunaan kernel fortifikan, proses pencampuran vitamin dan mineral, pengujian laboratorium, sertifikasi, pengemasan, distribusi, hingga margin keuntungan yang diambil pelaku usaha. Produsen diminta menjelaskan secara transparan besaran biaya tambahan akibat proses fortifikasi sehingga masyarakat memperoleh gambaran yang jelas mengenai alasan harga produk tersebut lebih tinggi.

Selain aspek harga, pemerintah akan melakukan pengujian laboratorium terhadap kandungan vitamin dan mineral yang diklaim produsen. Hasil pengujian akan dibandingkan dengan informasi pada label kemasan guna memastikan seluruh klaim tersebut benar, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Tak hanya kandungan gizi, mutu dasar beras juga menjadi perhatian utama. Pemeriksaan meliputi kadar air, derajat sosoh, persentase butir patah, menir, butir rusak, butir mengapur, keberadaan benda asing, hama, warna, aroma, hingga parameter mutu lainnya sesuai standar nasional. Langkah ini dilakukan agar tambahan vitamin dan mineral tidak dijadikan cara untuk menutupi kualitas beras yang sebenarnya rendah.

Pemerintah juga akan memeriksa kesesuaian berat bersih produk dengan informasi yang tertera pada kemasan. Selain itu, seluruh informasi pada label, mulai dari nama produk, komposisi, kandungan gizi, kelas mutu, identitas produsen, izin edar, hingga berbagai klaim promosi akan diverifikasi. Apabila ditemukan ketidaksesuaian, pemerintah dapat meminta pelaku usaha memperbaiki label, menghentikan sementara peredaran produk, bahkan menariknya dari pasar sesuai tingkat pelanggaran yang ditemukan.

Penulis: Yustinus Agus
Jumat, 7 Agustus 2026 | 02:53 WIB
Artikel Selanjutnya

Tangsel Darurat Narkoba? Saat Penjaga Justru Tersandung Dugaan Kasus

Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

↑ Kembali ke atas
Harga Beras Fortifikasi Disorot, Pemerintah Telusuri Dugaan Permainan Label dan Mutu

Bagikan artikel ini melalui